YAYASAN YATIM & DU’AFA ALKAUTSAR 561, MENERIMA PENYALURAN ZAKAT, INFAQ, WAKAF DAN SHODAQOH

Minggu, 26 Februari 2023

AKHLAQUL KARIEM BAB SABAR & SYUKUR

Sabar (Al-Shabr) mengandung pengertian, yaitu menahan (al-habsu), yaitu menahan diri dari rasa gelisah, cemas dan amarah, menahan lidah dari keluh kesah dan menahan anggota tubuh dari kekacuan. Pengertian ini dapat digunakan dalam pengertian yang bersifat fisik-material seperti menahan penderitaan badan dan tahan terhadap pukulan adapun syukur (Al-Syukru) mengandung pengertian menerima tentang suatu hal atau salah satu tahapan yang lebih tinggi dibandinkan sabar.

Kenapa kita bersyukur dan sabar dalam kehidupan?

Syukur dan sabar merupakan dua kalimat yang selalu ada dalam kehidupan manusia dan pelengkap kehidupan yang multifungsi sebagai wujud manusia taat kepada Allah SWT. Syukur dan sabar merupakan nikmat besar yang tidak dapat dikalkulasikan dengan hitungan yang terbatas, atas perintah-nya manusia akan patuh, takwa dan shaleh.


Bentuk contoh sabar tampak hadir dalam kehidupan manusia bila ia tertimpa musibah dan syukur ketika ia mendapatkan nikmah. Keduanya silih berganti diberikan Allah kepada manusia untuk dijadikan alat ukur keimanan kepada-Nya, apakah mereka bersabar kalau mendapat musibah, atau sebaliknya bersyukur kalau mendapat nikmat. Manusia tidak bisa lepas dari dua hal itu.

Sedangkan dalam menerima nikmat mesti harus bersyukur. Arti bersyukur adalah puas dan senang atas nikmat yang diberikan Allah Swt, dan hakikat syukur adalah menampakkan nikmat yang diberikan-Nya dan mempergunakannya sesuai dengan yang dikehendaki pemberi nikmat (Allah Swt). Dengan demikian syukur mencakup tiga hal pula; pertama, syukur dengan hati, artinya kepuasan hati atas anugerah-Nya. Kedua, syukur dengan lidah, artinya dengan ucapan alhamdulillah mengakui dan memuji pemberian-Nya. Ketiga, syukur dengan perbuatan, artinya dengan berbuat nyata memanfaatkan anugerah yang diperoleh sesuai dengan tujuan pemberi anugerah. Dalam Al-Quran  kata “syukur” dalam berbagai bentuknya  ditemukan sebanyak  44 kali.

Bentuk relasi antara sikap sabar dan syukur adalah hubungan yang saling melengkapi. Ketika tidak memperoleh nikmat atau sesuatu yang di inginkan, maka sikap yang tepat adalah sabar. Sedangkan ketika memperoleh nikmat dan sesuatu yang diinginkan, maka sikap yang tepat adalah bersyukur. Relasi ini diperjelas oleh sabda Nabi Muhammad saw yang berbunyi:

Betapa pentingnya sikap sabar dan syukur dalam kehidupan sehari-hari tergambar dari sikap nabi Muhammad Saw yang selalu berdoa untuk dua hal itu, yaitu, “Allahumma ij’alni shabura waj’alni syakura” artinya, “Ya Allah jadikan aku hamba yang selalu bersabar dan jadikanlah aku hamba yang selalu bersyukur”. Hal itu berarti sabar dan syukur mesti menjadi pakaian orang beriman dalam kehidupan sehari-hari.

Sikap sabar menerima musibah menjadi contoh besar dan terus mengucapkan dengan lidah “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’un” artinya “Sesungguhnya kami dari Allah dan akan kembali kepada Allah”. Hal itu menunjukkan perlunya sikap seorang hamba menyadari bahwa segala sesuatu yang ada di alam ini hanyalah milik Allah, sedangkan manusia hanyalah peminjam semata.

Sikap bersyukur menerima nikmat sambil mengucapkan “Alhamdulillaahi rabbil alamiin” artinya segala puji bagi Allah yang mengatur sekalian alam adalah sikap seorang mukmin apabila mendapat nikmat sebagai tanda syukur dengan lidah dengan mengakui dan memuji pemberian-Nya dan memanfaatkan anugerah yang diperolehnya sesuai dengan tujuan pemberi anugerah.

Contoh aspek sabar yang dialami para Nabi :

1.      Kesabaran Nabi Ismail dalam menerima Perintah Allah SWT (QS. Ibrahim: 37)

2.      Kesabaran Nabi Idris As dalam berdakwah

Contoh aspek Syukur :

1.      Sifat syukur yang Allah SWT berikan kepada Para Nabi dan Orang Beriman. (QS. Al-A’raf: 69)







 


 

0 comments:

Posting Komentar