Bersatu Lawan Covid-19

Ayo bersama kita sukseskan Gerakan #DiRumahAja dengan ikut donasi bagi kaum Du'afa yang kurang mampu. Kami siap membantu untuk menyalurkan

Wakaf Pesantren

Ayo Kita Raih Kesempatan Amal Jariyah dengan Ikut Membangun Pesantren Tahfidz Al-kautsar 561

Berbagi Kebahagiaan Dengan Yatim dan Du'afa

Mari kita berbagi kebahagiaan dengan para santri yatim dan du'afa penghafal quran, kita bantu wujudkan cita-cita mereka menjadi ilmuan yang hafal Alquran

Program Orang Tua Asuh

Hanya dengan menyisihkan min 20K anda sudah menjadi orang tua asuh para santri yatim du'afa penghafal Al-quran

YAYASAN YATIM & DU’AFA ALKAUTSAR 561, MENERIMA PENYALURAN ZAKAT, INFAQ, WAKAF DAN SHODAQOH

Selasa, 29 April 2014

Kisah teladan perjalanan hidup "Ketika Derita Mengabadikan Cinta"

Ketika Derita Mengabadikan Cinta Kini tibalah saatnya kita semua mendengar nasihat pernikahan untuk kedua mempelai yang akan disampaikan oleh yang terhormat prof.Dr.Mamduh Hassan Al Gonzouri.

Beliau adalah ketua Ikatan Doktor Cairo dan direktor Rumah Sakit Qashrul Aini, seorang pakar saraf terkemuka di Timur Tengah, yang tidak lain adalah juga pensyarah bagi kedua mempelai. Kepada Professor Mamduh dipersilakan”. Suara pengerusi majlis walimatul urs’ itu bergema di seluruh ruangan majlis pernikahan nan mewah di Hotel Hilton Ramses yang terletak di tepi Sungai Nil, Cairo. Seluruh hadirin menanti dengan penuh penasaran, apa kiranya yang akan disampaikan pakar saraf kelulusan London itu. Hati mereka menanti-nanti, mungkin akan ada kejutan baru mengenai hubungan pernikahan dengan kesihatan saraf dari professor yang murah dengan senyuman dan sering muncul di televisyen itu.

Sejurus kemudian, seorang lelaki separuh baya berambut putih melangkah menuju pentas. Langkahnya tegap. Air muka di wajahnya memancarkan kewibawaan. Kepalanya yang sedikit botak meyakinkan bahawa ia memang ilmuwan berjaya. Sorot matanya tajam dan kuat, mengisyaratkan peribadi yang tegas. Sebaik sampai di pentas, kamera video dan lampu sorot terus menyunting ke arahnya. Sesaat sebelum berbicara, seperti biasa, ia sentuh bingkai kacamatanya,lalu…

Bismillah. Alhamdulillah. Wash shalatu was salamu’ala Rasulillah. Amma ba’du. Sebelumnya saya mohon maaf, saya tidak boleh memberikan nasihat lazimnya para ulama, para mubaligh, atau para ustadz. Namun pada kesempatan kali ini perkenankan saya bercerita.

Cerita yang hendak saya sampaikan kali ini bukan khayalan belaka dan bukan cerita biasa. Tetapi sebuah pengalaman hidup yang tidak ternilai harganya, yang telah saya kecap dengan segenap jasad dan jiwa saya. Harapan saya, mempelai berdua dan seluruh hadirin yang dimuliakan Allah boleh mengambil hikmah dan pelajaran yang dikandungnya. Ambillah mutiaranya dan buanglah lumpurnya. Saya berharap kisah nyata saya ini dapat melunakkan hati-hati yang keras, melukiskan nuansa-nuansa cinta dan kedamaian, serta menghadirkan kesetiaan pada segenap hati yang menangkapnya.

Hadirin yang terhormat, Tiga puluh lima tahun yang lalu. Saya adalah seorang pemuda, hidup di tengah keluarga bangsawan menengah ke atas. Ayah saya seorang perwira berpangkat tinggi, keturunan “Pasha” yang sangat terhormat di negeri ini. Ibu saya tak kalah terhormatnya, seorang lady dari keluarga bangsawan terkemuka di Ma’adi, ia berpendidikan tinggi, pakar ekonomi lulusan Sorbonne yang memegang jawatan penting dan sangat dihormati kalangan elit politik negeri ini. Saya anak sulung, adik saya dua, lelaki dan perempuan. Kami hidup dalam suasana kebangsawanan dengan aturan hidup tersendiri. Perjalanan hidup sepenuhnya diatur dengan undang-undang dan norma kebangsawanan. Keluarga besar kami hanya mengenal pergaulan dengan kalangan bangsawan atau kalangan high class sepadan!

Entah mengapa, saya merasa tidak puas dengan cara hidup seperti ini. Saya merasa terkongkong dan terbelenggu oleh golongan sosial yang didewa-dewakan keluarga. Saya tidak merasakan hidup sebenar yang saya cari. Saya lebih merasa hidup justeru saat bergaul dengan teman-teman dan kalangan bawahan yang menghadapi kehidupan dengan penuh tentangan dan perjuangan. Hal ini ternyata membuat keluarga saya gusar, mereka menganggap saya ceroboh dan tidak boleh menjaga status sosial keluarga. Pergaulan saya dengan orang-orang yang selalu basah keringat dalam mencari pengalas perut dianggap memalukan keluarga. Namun saya tidak ambil peduli. Kerana ayah memperoleh warisan yang sangat besar dari datuk, dan ibu
mampu mengembangkannya berlipat kali ganda, maka kami hidup mewah dengan selera tinggi. Jika musim panas tiba, kami biasa bercuti ke luar negeri, ke Paris, Rom, Sydney atau kota besar dunia lainnya. Jika bercuti di dalam negeri, ke Alexandria misalnya, maka pilihan keluarga kami adalah hotel San Stefano atau hotel mewah di dalam Montaza yang berdekatan dengan istana Raja Faruq.

Sebaik masuk fakulti kedoktoran, saya dibelikan kereta mewah. Berkali-kali saya minta pada ayah untuk menggantikannya dengan kereta biasa sahaja, agar lebih senang bergaul dengan teman-teman dan para pensyarah. Tapi beliau menolak mentah-mentah. “Justeru dengan kereta mewah itu kamu akan dihormati siapa sahaja”.Tegas ayah. Terpaksa saya pakai kereta itu meskipun dalam hati saya membantah pendapat materialistik ayah. Dan agar lebih selesa di hati, saya meletakkan kereta itu jauh dari tempat kuliah.

Di kuliah saya jatuh cinta pada teman sekuliah. Seorang gadis yang penuh pesona zahir batin. Saya tertarik dengan kesederhanaan, kesahajaan, dan kemuliaan akhlaknya. Dari keteduhan wajahnya saya menangkap dalam relung hatinya tersimpan kesetiaan dan kelembutan tiada tara. Kecantikan dan kecerdasannya sangat menakjubkan. Ia gadis yang beradab dan berprestasi, sama seperti saya. Gayung pun bersambut. Dia ternyata juga menyintai saya. Saya merasa telah menemukan pasangan hidup yang tepat. Kami berjanji untuk menempatkan cinta ini dalam ikatan suci yang diredhai Allah, iaitu ikatan pernikahan. Akhirnya kami berdua lulus dengan nilai tertinggi di fakulti. Maka datanglah saatnya untuk mewujudkan impian kami berdua menjadi kenyataan. Kami ingin memadu cinta penuh bahagia di jalan yang lurus. Saya buka keinginan untuk melamar dan menikahi gadis pujaan hati pada keluarga. Saya ajak dia berkunjung ke rumah. Ayah, ibu dan saudara mara saya semuanya takjub dengan kecantikan, kelembutan, dan kecerdasannya. Ibu saya memuji cita rasanya dalam memilih warna pakaian serta tutur bahasanya yang halus.

Selepas kunjungan itu, ayah bertanya tentang pekerjaan ayahnya. Sebaik saja saya beritahu, serta merta meledaklah badai kemarahan ayah dan terus membanting gelas yang ada berdekatannya. Bahkan beliau mengancam: “Pernikahan ini tidak boleh terjadi selamanya!” Beliau menegaskan bahawa selama beliau masih hidup rancangan pernikahan dengan gadis berakhlak mulia itu tidak boleh terjadi. Pembuluh otak saya nyaris pecah pada saat itu menahan remuk redam kepedihan batin yang tak terkira.

Hadirin semua, adakah Anda tahu apa sebabnya? Kenapa ayah saya berlaku sedemikian kejam? Sebabnya, kerana ayah calon isteri saya itu adalah tukang cukur…..tukang cukur, ya sekali lagi…tukang cukur! Saya katakan dengan bangga. Kerana meski hanya tukang cukur, dia seorang lelaki sejati. Seorang pekerja keras yang telah menunaikan kewajipannya pada keluarganya. Dia telah mengukir satu prestasi yang tak banyak dilakukan para bangsawan “Pasha”. Melalui tangannya ia lahirkan tiga orang doktor, seorang jurutera dan seorang leftenan, meskipun dia sama sekali tidak pernah mengecap bangku pendidikan. Ibu, saudara dan seluruh keluarga berpihak pada ayah. Saya sendiri berdiri, tiada yang membela. Pada saat yang sama adik lelaki saya membawa pasangannya yang telah hamil dua bulan ke rumah. Minta direstui. Ayah, ibu terus merestui dan menyiapkan biaya majlis pernikahannya sebanyak lima ratus ribu pound. Saya protes kepada mereka, kenapa ada perlakuan tidak adil seperti ini? Kenapa saya yang ingin bercinta di jalan yang lurus tidak direstui sedangkan adik saya yang jelas-jelas telah berzina , bertukar ganti pasangan dan akhirnya menghamilkan pasangannya yangentah keberapa di luar aqad nikah, malah direstui dan diberi biaya maha besar?

Dengan senang ayah menjawab: “Kerana kamu memilih pasangan hidup dari golongan yang salah dan akan menurunkan martabat keluarga, sedangkan teman wanita adik kamu yang hamil itu anak menteri, dia akan menaikkan martabat keluarga besar Al Gonzouri”. Hadirin semua, semakin perit luka dalam hati saya. Kalau dia bukan ayah saya tentu sudah tentu saya maki habis-habisan. Mungkin itulah tanda kiamat mahu datang, yang ingin hidup bersih dengan menikah dihalangi, namun yang jelas berzina justeru terus dibiayai. Dan dengan menyebut asma Allah, saya putuskan untuk membela cinta dan hidup saya. Saya ingin buktikan pada siapa saja, bahawa cara dan pasangan bercinta pilihan saya adalah benar. Saya tidak ingin apa-apa selain menikah dan hidup baik-baik sesuai dengan tuntunan suci yang saya yakini kebenarannya. Itu saja. Saya bawa kaki ini melangkah ke rumah kasih dan saya temui ayahnya. Dengan penuh kejujuran saya jelaskan apa yang sebenarnya terjadi, dengan harapan beliau berlaku bijak merestui rancangan saya. Namun la haula wala quwwata illa billah, saya dikejutkan oleh sikap beliau setelah mengetahui penolakan keluarga saya. Beliau pun menolak mentah-mentah untuk mengahwinkan puterinya dengan saya. Bahkan juga bersumpah tidak akan merestui hal itu selamanya, demi kehormatan keluarganya. Dia tidak rela keluarganya menjadi bahan ejekan dan hinaan kalangan “Pasha”. Namun puterinya berkeras ingin menikah dengan saya dan tidak akan menikah kecuali dengan saya. Ternyata beliau menjawabnya dengan reaksi lebih keras, beliau tidak menganggapnya sebagai anak jika tetap nekad bernikah dengan saya.

Kami berdua bingung, jiwa kami terseksa. Keluarga saya menolak pernikahan ini terjadi kerana alasan status sosial, sedangkan keluarga dia menolak kerana alasan membela kehormatan. Berhari-hari saya dan dia hidup berlinang air mata, beratap dan bertanya kenapa orang–orang itu tidak memiliki kesejukan cinta? Setelah berfikir panjang, akhirnya saya putuskan untuk mengakhiri penderitaan ini. Suatu hari saya ajak gadis yang saya cintai itu ke pejabat ma’adzun syari (petugas pencatat nikah) disertai tiga orang sahabat karibku. Kami berikan identiti kami dan kami minta ma’adzun untuk melaksanakan akad nikah kami secara syar’i mengikut madzhab Imam Hanafi. Ketika ma’adzun menutun saya: “Mamduh, ucapkanlah kalimat ini: Saya terima nikah kamu sesuai dengan sunnatullah wa rasulihi dan dengan mahar yang kita sepakati bersama serta dengan memakai madzhab Imam Abu Hanifah Radiyallahu ‘anhu”. Seketika itu bercucuranlah air mata saya, airmata dia dan airmata ketiga sahabat saya yang tahu secara detail perjalanan menuju aqad nikah itu. Kami keluar dari pejabat itu dengan rasmi sebagai suami-isteri yang sah di mata Allah Subhanahu wa Ta’ala dan manusia.

Kami punya bukti sah sebagai suami isteri yang diakui negara dan diakui syariat. Kami telah bertekad siap mengahadapi kemungkinan hidup ini murni dengan kekuatan kami, tanpa sandaran dan dukungan siapa pun kecuali pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Saya bisikkan dalam telinga isteri saya agar menyiapkan kesabaran lebih, sebab rasanya penderitaan ini belum berakhir.

Seperti yang saya duga, penderitaan itu belum berakhir, aqad nikah kami membuat murka keluarga. Prahara kehidupan menanti di depan mata. Sebaik saja mencium pernikahan kami, saya diusir oleh ayahku dari rumah. Kereta dan segala kemudahan yang ada disita. Saya pergi dari rumah tanpa membawa apa-apa. Kecuali beg lusuh berisi beberapa pasang pakaian dan duit sebanyak tujuh pound saja, hanya empat pound! Itulah sisa duit yang saya miliki selesai membayar duit aqad nikah di pejabat ma’adzun. Begitu pula dengan isteriku, ia turut diusir oleh keluarganya. Lebih tragis ia hanya membawa beg kecil berisi pakaian dan wang sebanyak dua pound, tidak lebih. Total, kami hanya pegang enam pound atau dua dolar. Ah, apa yang boleh kami lakukan dengan enam pound. Kami berdua bertemu di jalanan umpama gelandangan. Saat itu adalah bulan Februari, tepat pada puncak musim dingin. Kami menggigil. Rasa cemas, takut, sedih, dan sengsara bercampur aduk menjadi satu. Hanya saja saat mata kami yang berkaca-kaca bertatapan penuh cinta dan jiwa menyatu dalam dakapan kasih sayang, rasa berdaya dan hidup menjalari sukma kami.
“Habibi, maafkan Kanda yang membawamu ke jurang kesengsaraan seperti ini
Maafkan kanda!.
“Tidak Kanda tidak salah, langkah yang Kanda tempuh benar. Kita telah berfikir benar dan bercinta dengan benar. Merekalah yang tidak boleh menghargai kebenaran. Mereka masih diselimuti cara berfikir anak kecil. Suatu ketika mereka akan tahu bahawa kita benar dan tindakan mereka salah. Saya tidak menyesal dengan langkah yang kita tempuh ini, percayalah, insya Allah, saya akan sentiasa mendampingi Kanda, selama Kanda setia membawa dinda di jalan yang lurus. Kita akan buktikan pada mereka bahawa kita boleh hidup dan berjaya dengan keyakinan cinta kita. Suatu ketika saat kita gapai kejayaan itu, kita hulurkan tangan kita dan kita berikan senyuman kita pada mereka dan mereka akan menangis haru. Airmata mereka akan mengalir deras seperti derasnya airmata derita kita saat ini.” Jawab isteri saya dengan terisak dalam pelukan. Kata-katanya memberikan pengaruh yang luar biasa dalam diri saya. Lahirlah rasa optimisme untuk hidup.

Rasa takut dan cemas itu sirna seketika. Apalagi teringat bahawa satu bulan lagi kami akan dilantik menjadi
doktor. Dan sebagai lulusan terbaik masing-masing dari kami akan menerima penghargaan dan wang sebanyak 40 pound. Malam semakin larut dan hawa dingin semakin menggigit. Kami duduk di kaki lima kedai berdua sebagai orang melarat yang tidak punya apa-apa. Dalam kebekuan otak kami terus berputar mencari jalan keluar. Tidak mungkin kami tidur di kaki lima kedai itu. Jalan keluar itu pun datang jua. Dengan sisa wang pound itu kami boleh meminjam telefon di sebuah kedai dua puluh empat jam. Saya Berjaya menghubungi seorang teman yang boleh memberi pinjaman sebanyak 50 pound. Ia bahkan menghantarkan kami dengan keretanya mencarikan lokandat (rumah penginapan) ala kadarnya yang murah.

Saat kami berteduh dalam bilik sederhana, segeralah kami disedarkan kembali bahawa kami berada di lembah kehidupan yang susah, kami harus mengharunginya berdua dan tidak ada yang menolong kecuali cinta, kasih sayang dan perjuangan keras kami berdua serta rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kami hidup dalam lokandat itu beberapa hari, sampai teman kami berjaya menemukan rumah sewa sederhana di daerah kumuh Syubra Kaimah. Bagi kaum bangsawan, rumah sewa kami mungkin dipandang sepantasnya adalah untuk kandang binatang kesayangan mereka. Bahkan rumah kesayangan mereka mungkin lebih bagus dari rumah sewa kami. Namun bagi kami, ini adalah hadiah dari langit. Apapun bentuk rumah itu,jika seorang gelandang tanpa rumah menemukan tempat berteduh, ia bagaikan mendapat hadiah agung dari langit.
Kebetulan yang tuan punya rumah sedang memerlukan wang, sehingga dia menerima aqad sewa tanpa wang jaminan dan wang perkhidmatan lainnya. Jadi sewanya tak lebih dari 25 pound saja untuk tiga bulan. Betapa bahagianya kami saat itu, segera kami pindah ke sana. Lalu kami membeli perkakas rumah untuk pertama kalinya. Tidak lebih dari sebuah tilam kasar dari kapas, dua bantal, satu meja kayu kecil, dua kerusi dan satu dapur gas sederhana sekali, kipas, dan dua cangkir dari tanah, itu saja tak lebih.

Dalam hidup yang bersahaja dan belum boleh dikatakan layak itu, kami tetap merasa bahagia, kerana kami selalu bersama. Adakah di dunia ini kebahagiaan melebihi pertemuan dua orang yang diikat kuatnya cinta? Hidup bahagia adalah hidup dengan ghairah cinta. Dan kenapakah orang-orang di dunia merindukan syurga di akhirat. Kerana di syurga Allah menjanjikan cinta. Ah, saya jadi teringat perkataan Ibnul Qayyim, bahawa ni’matnya persetubuhan cinta yang dirasa sepasang suami isteri di dunia adalah untuk memberikan gambaran setitis rasa ni’mat yang disediakan Allah di syurga. Jika percintaan suami isteri itu ni’mat, maka syurga jauh lebih ni’mat dari itu semua. Ni’mat cinta di syurga tidak boleh dibayangkan. Yang paling ni’mat adalah cinta yang diberikan Allah kepada penghuni syurga, saat Allah memperlihatkan wajahNya. Dan tidak semua penghuni syurga berhak meni’mati indahnya wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Untuk mencapai ni’mat cinta itu, Allah menurunkan petunjuknya iaitu Al-Quran dan Sunnah. Yang konsisten mengikuti petunjuk Allahlah yang berhak memperoleh segala cinta di syurga. Melalui penghayatan cinta ini, kami menemukan jalan-jalan lurus mendekatkan diri kepadaNya. Isteri saya jadi rajin membaca Al-Quran, lalu memakai tudung, dan tiada putus solat malam. Di awal malam ia menjelma menjadi puteri raja yang cantik mengghairahkan. Di akhir malam ia menjelma menjadi Rabiah Adawiyah yang larut dalam samudera munajat kepada Tuhan. Pada waktu siang dia adalah doktor yang penuh pengabdian dan belas kasihan. Ia memang wanita yang berkarakter dan berperibadian kuat, ia bertekad untuk menempuh hidup berdua tanpa bantuan siapa, kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dia juga seorang wanita yang pandai mengurus wang . Wang sebanyak 55 pound yang tersisa setelah membayar rumah cukup untuk makan dan pengangkutan selama satu bulan.

Tetangga-tetangga kami yang sederhana sangat mencintai kami, dan kami juga mencintai mereka. Mereka merasa kasihan melihat kemelaratan dan derita hidup kami, padahal kami berdua adalah doktor. Sampai-sampai ada yang kata tanpa disengaja: “Ah, kami ingat para doktor itu pasti semuanya kaya, ternyata ada juga ya yang melarat sengsara seperti
Mamduh dan isterinya.”

Akrabnya persahabatan kami dengan para tetangga banyak mengurangi nestapa kami. Beberapa kali tetangga kami menawarkan bantuan-bantuan kecil layaknya seperti saudara sendiri. Ada yang menawari isteri agar menumpangkan saja cuciannya pada mesin cuci mereka. Kerana kami memang doktor yang sibuk. Ada yang membelikan keperluan dapur. Ada yang membantu membersihkan rumah. Saya sangat terkesan dengan pertolongan-pertolongan itu. Kehangatan tetangga itu seolah pengganti kasarnya perlakuan yang kami terima dari keluarga kami sendiri. Keluarga kami bahkan tidak terpanggil sama sekali untuk mencari dan mengunjungi kami. Yang lebih menyakitkan, mereka tidak membiarkan kami hidup tenang. Suatu malam ketika kami sedang tidur nyenyak,tiba-tiba rumah kami diketuk dengan kasar dan ditendang oleh empat penjahat kiriman ayah saya. Mereka merosakkan segala perkakas yang ada. Meja kayu satu-satunya mereka patah-patahkan, begitu juga kerusi. Katil tempat kami tidur satu-satunya mereka robek-robek. Mereka mengancam dan memaki dengan kata-kata kasar. Lalu mereka keluar dengan ancaman: “Kalian
tidak akan hidup tenang, kerana berani menentang Tuan Pasha!” Yang mereka maksudkan dengan “tuan pasha” adalah ayah saya yang saat itu pangkatnya naik menjadi jeneral.

Keempat-empat banjingan itu pergi. Kami berdua berpelukan, menangis bersama-sama berbagi nestapa dan membangun kekuatan. Lalu kami atur kembali rumah yang hancur. Kami kumpulkan juga kapas-kapas yang berserakan, kami masukkan dalam tilam dan kami jahit tilam yang koyak-rabak tidak karuan itu. Kami
susun semula buku-buku yang bersepah. Meja dan kerusi yang pecah itu berusaha kami perbaiki. Lalu kami tidur kepenatan dengan tangan erat bergenggaman, seolaholah eratnya genggaman inilah sumber rasa aman dan kebahagiaan yang meringankan tekanan hidup ini. Benar, firasat saya mengatakan ayah tak akan membiarkan kami hidup tenang. Saya mendapat berita dari seorang teman bahawa ayah telah merancang scenario keji untuk memenjarakan isteri saya berdua dengan tuduhan wanita pelacur. Semua orang juga tahu kuatnya pegawai perisik ketenteraan di negeri ini. Mereka berhak melaksanakan apa saja dan undang-undang berada di bawah telapak kaki mereka. Saya hanya boleh pasrah segalanya kepada Allah
mendengar hal itu.

Dan masya Allah! Ayah memang merancang rancangan itu dan tidak niat jahatnya itu kecuali setelah seoarang teman karibku berjaya memperdaya beliau dengan bersumpah akan berjaya memujuk saya agar menceraikan isteri saya. Dan meminta ayah untuk bersabar dan tidak menjalankan skenario itu, sebab kalau itu terjadi pasti pemberontakan saya akan menjadi lebih keras dan akan berbuat lebih nekad. Tugas temanku itu adalah mengunjungi ayahku setiap minggu sambil meminta beliau bersabar, sampai berjaya meyakinkan saya untuk menceraikan isteriku. Inilah rancangan temanku itu untuk terus menghulur waktu, sampai ayah turun marahnya dan melupakan rencana kejamnya. Sementara saya dapat mempersiapkan segala sesuatu lebih matang.

Beberapa bulan setelah itu datanglah saatnya masa wajib militer (tentera). Selama satu tahun penuh saya menjalani wajib militer. Inilah masa yang sangat saya takutkan, tidak ada kemasukan sama sekali yang saya terima kecuali 6 pound setiap bulan. Dan saya mesti berpisah dengan belahan jiwa yang sangat saya cintai. Nyaris selama satu tahun saya tidak dapat tidur kerana memikirkan keselamatan isteri tercinta. Tetapi Allah tidak melupakan kami, Dialah yang menjaga keselamatan hamba-hambaNya yang beriman. Isteri saya hidup selamat bahkan dia mendapat kesempatan bekerja sementara di sebuah klinik kesihatan dekat rumah kami. Jadi selama satu tahun ini, dia hidup berkecukupan dengan rahmat Allah. Selesai wajib militer, saya terus menumpahkan segenap rasa rindu pada kekasih hati. Saat itu adalah musim bunga. Musim cinta dan keindahan. Malam itu saya tatap matanya yang indah, wajahnya yang putih bersih. Ia tersenyum manis. Saya reguk segala cintanya. Saya teringat puisi seorang penyair Palestin yang memimpikan hidup bahagia dengan  pendamping setia dan lepas dari belenggu derita.

Sambil menatap ke kaki langit
Kukatakan padanya
Di sana, di atas lautan pasir kita akan berbaring
Dan tidur nyenyak sampai Subuh tiba
Bukan kerana ketiadaan kata-kata
Tetapi kerana kupu-kupa kelelahan
Akan tidur di atas bibir kita
Besok, oh cintaku, besok
Kita akan bangun pagi sekali
Dengan para pelaut dan perahu layar mereka
Dan kita akan terbang bersama angin
Seperti burung-burung
***
Yah, saya pun memimpikan yang demikian. Ingin rasanya istirehat dari nestapa dan derita. Namun dia ternyata punya pandangan lain. Dia malah berkeras untuk masuk program Magister bersama. Gila! Idea gila! Fikirku saat itu. Bagaimana tidak. Ini adalah saat yang paling tepat untuk pergi meninggalkan Mesir dan mencari pekerjaan sebagai doktor di Negara teluk, demi menjauhi permusuhan keluarga yang berperasaan. Tetapi isteri saya malah terfikir untuk meraih Magister. Saya pujuk dia  untuk menghentikan niatnya. Tapi dia tetap berkeras untuk meraih Magister dan menjawab dengan logik yang tak kuasa saya tolak:  “Kita berdua paling berprestasi dalam angkatan dan mendapat tawaran dari fakulti sehingga akan memperolehi keringanan dalam pembiayaan, kita harus bersabar sebentar menahan derita untuk meraih keabadian cinta dalam kebahagiaan. Kita sudah kepalang basah menderita, kenapa tidak sekalian kita reguk
sumsum penderitaan ini, kita sempurnakan prestasi akademik kita, dan kita wujudkan
mimpi indah kita.”

Ia begitu tegas. Matanya yang indah tidak membiaskan keraguan atau ketakutan sama sekali. Berhadapan dengan tekad membaja isteriku,hatiku pun luruh. Kupenuhi ajakannya dengan perasaan takjub akan kesabaran dan kekuatan jiwanya. Jadilah kami berdua masuk program Magister. Dan mulailah kami memasuki hidup baru yang lebih menderita. Kemasukan hanya cukup-cukup untuk hidup, sementara
keperluan kuliah luar biasa banyaknya, dana untuk praktikal, buku dan lain-lain. Nyaris kami hidup seperti kaum sufi. Makan hanya dengan roti isy dan air. Hari-hari yang kami lalui lebih berat dari hari-hari awal pernikahan kami. Malam-malam kami lalui bersama dengan perut lapar, teman setia kami adalah air paip. Ya, air paip. Masih terakam dalam memori saya, bagaimana kami belajar bersama pada suatu malam sampai
didera rasa lapar tak terkira, kami ubati dengan air. Yang terjadi, kami malah muntahmuntah. Terpaksa wang untuk beli buku kami ambil untuk beli pengisi perut. Siang hari, jangan tanya, kami terpaksa puasa. Dari keterpaksaan itu terjelmalah kebiasaan dan keikhlasan.

Meski sedemikian melaratnya, kami merasa bahagia. Kami tidak pernah menyesal atau mengeluh sedikit pun. Tidak pernah saya melihat isteri saya mengeluh, menangis, sedih atau pun marah kerana suatu sebab. Kalaupun dia menangis itu bukan menyesali nasibnya, tetapi dia lebih merasa kasihan pada saya. Dia kasihan melihat keadaan saya yang asalnya terbiasa hidup mewah dengan selera high class,tiba-tiba harus hidup sengsara seperti pengemis. Dan sebaliknya saya juga merasa kasihan melihat keadaan dia, dia yang asalnya hidup selesa dan makmur dengan keluarganya harus hidup menderita di rumah sewa yang buruk dan makan ala kadarnya. Timbal balik perasaan ini ternyata menciptakan suasana mawaddah yang luar biasa kuatnya dalam diri kami. Saya tidak mampu lagi melukiskan rasa sayang, penghormatan dan cinta yang mendalam padanya.

Setiap kali saya mengangkat kepala dari buku, yang nampak di depan saya adalah wajah isteri yang lagi serius belajar. Kutatap wajahnya dalam-dalam. Saya kagum pada bidadari saya itu. Merasa diperhatikan, dia akan mengangkat pandangannya dari buku, dan menatap saya penuh cinta dan senyumannya yang khas. Jika sudah demikian, penderitaan ini terlupakan semua. Rasanya kamilah orang paling berbahagia di dunia. “Allah menyertai orang-orang yang sabar, Sayang!” bisiknya mesra sambil tersenyum. Lalu kami teruskan belajar dengan semangat membara.

Maha Penyayang. Usaha kami tidak sia-sia. Kami berdua meraih gelaran Master dengan waktu tercepat di Mesir. Hanya dua tahun saja. Namun kami belum keluar dari derita. Setelah meraih Master pun kami masih mengecap hidup susah, tidur di atas tilam nipis dan tidak ada istilah makan enak dalam hidup kami. Sampai
akhirnya, rahmat Allah datang jua. Setelah usaha keras, kami berjaya menandatangani kontrak kerja di sebuah rumah sakit di Kuwait. Dan untuk pertama kalinya setelah lima tahun berselimut derita dan duka, kami mengenal hidup layak dan tenang. Kami hidup di rumah yang mewah. Kami rasakan kembali tidur di atas tilam empuk. Kami kenal kembali makanan lazat setelah kami tinggal sekian tahun. Dua tahun setelah itu kami pun dapat membeli villa bertingkat dua di Heliopolis, Cairo.

Sebenarnya saya rindu untuk kembali ke Mesir setelah memiliki rumah yang sesuai. Tetapi isteriku memang “gila”. Ia kembali mengeluarkan idea gila, iaitu idea untuk melanjutkan program doktor spesialis di London, juga dengan alasan logik yang susah saya tolak: “Kita doktor yang berprestasi. Hari-hari penuh derita telah kita lalui dan kita kini memiliki wang yang cukup untuk mengambil doktor di London. Setelah bertahun-tahun
kita hidup di lorong buruk dan kotor, tak ada salahnya kita raih sekalian tahap akademik tertinggi sambil merasakan hidup di negara maju. Apalagi pihak rumah sakit telah menyediakan dana tambahan.” Ku cium kening isteriku, bismillah kita ke London. Singkatnya, dengan rahmat Allah, kami berdua berjaya meraih gelaran doktor dari London. Saya spesialis saraf dan isteri saya spesialis jantung. Setelah memperoleh gelaran doktor spesialis, kami menandatangani kontrak kerja baru di Kuwait dengan gaji luar biasa besarnya.

Bahkan saya diangkat sebagai doktor ahli sekaligus direktor rumah sakitnya dan isteri saya sebagai wakilnya. Kami juga mengajar di Universiti. Kami pun dikurniai seorang puteri yang cantik dan cerdas. Saya namakan dia dengan nama isteri terkasih, belahan jiwa yang menemaniku dalam suka dan duka, yang tiada henti mengilhamkan kebajikan-kebajikan. Lima tahun setelah itu kami kembali ke Cairo setelah sebelumnya menunaikan ibadah haji di Tanah Haram. Kami kembali laksana seorang raja dan permaisurinya yang pulang dari lawatan keliling dunia. Kini kami hidup bahagia, penuh cinta dan kedamaian setelah lebih dari sembilan tahun hidup menderita, melarat dan sengsara.

Mengenang masa lalu, maka bertambahlah rasa syukur kami pada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bertambahlah rasa cinta kami. Ini cerita nyata yang ingin saya sampaikan sebagai nasihat hidup. Jika hadirin sekalian ingin tahu isteri solehah yang saya cintai dan mencurahkan cintanya dengan tulus tanpa pernah surut sejak pertemuan pertama sampai saat ini, di kala suka dan duka, maka lihatlah wanita berjilbab biru muda yang menunduk di barisan depan kaum ibu, tepat samping kiri artis berjilbab Huda Sulthan, dialah isteri saya tercinta yang mengajrkan bahawa penderitaan boleh mengekalkan cinta, dialah Prof. Shiddiqa binti Abdul Aziz!”

Tepuk tangan bergemuruh mengiri gegak kamera video menyuting sosok perempuan separuh baya yang nampak anggun dengan jilbab biru tuanya. Perempuan itu sedang mengusap cucuran airmatanya. Kamera itu juga merakam mata Huda Sulthan yang berkaca-kaca, lelehan air mata haru kedua mempelai dan segenap hadirin yang menghayati cerita itu dengan saksama.
***************
*Ketika Derita Mengabadikan Cinta merupakan satu daripada 38 cerpen daripada Buku Di Atas Sajadah Cinta.

Selasa, 22 April 2014

Nasihat Ibnu Abbas

Oleh: Rifqi Fauzi

Salah satu sahabat kesayangan Nabi SAW adalah Ibnu Abbas. Sejak kecil dia sudah sangat dekat dengan Nabi SAW, sehingga Nabi SAW sangat mencintai dia dan mendoakannya untuk menjadi seorang yang faqih dalam masalah agama. Hasil dari doa tersebut, dia menjadi seorang sahabat yang ahli dalam ilmu tafsir, fikih, dan tercatat sebagai sahabat kelima yang paling banyak meriwayatkan hadits setelah Abu Hurairah, Ibnu Umar, Anas bin Malik, dan Aisyah.

Dari sekian banyak nasihat yang beliau tuangkan dalam beberapa atsar-nya, ada empat nasihat sekaligus amalan yang paling dicintai oleh beliau, sebagaimana yang dikutip oleh Dr Umar Abdul Al-Kafi dalam bukunya Afaatu al-Lisaan. Di antara nasihat-nasihat itu adalah, pertama, supaya umat Islam senantiasa berkata dalam hal yang bermanfaat, sehingga dengan keterjagaan lisannya, setiap ucapan yang keluar dari mulut mengandung hikmah dan ilmu yang bermanfaat.

Kedua, selain berkata dalam hal-hal yang bermanfaat, dia juga menekankan untuk bertutur kata yang baik dan sopan dan melarang untuk berbantah-bantahan dengan cara dan bahasa yang kasar. Hal ini sejalan dengan syarat berdakwah yang baik, sebagaimana firman Allah SWT, ”Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS Annahl [16]:125)

Ketiga, meminta kepada keluarga atau teman terdekat untuk selalu mengingatkan kita jika terdapat kesalahan dan kelakuan yang tidak mereka sukai. Begitupun dia menasihatkan untuk selalu gampang memaafkan kesalahan seseorang. Dengan saling mengoreksi dan gampang memaafkan, kita akan senantiasa sukses menjalin kekerabatan dengan siapapun.

Keempat, hendaklah bergaul dengan sesama dengan kelakuan yang baik dan yang mereka sukai, sebagaimana diri kita sendiri ingin digauli oleh orang lain dengan kelakuan yang baik dan yang kita sukai. Saling menghormati, mencintai, kelembutan, dan kesopanan merupakan fitrah yang paling dicintai oleh semua manusia.

Keempat amalan di atas merupakan kunci sukses Ibnu Abbas menjadi ulama yang sangat berpengaruh baik di kalangan sahabat ataupun bagi umat Islam pada umumnya. Selain itu dia juga mejadi seorang yang dicintai banyak orang.

http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=317284&kat_id=14

Senin, 21 April 2014

Iman Kepada Takdir

Oleh: Rifqi Fauzi,Lc (Alumni Al-Azhar Mesir. Sekarang mengajar di Al-Kautsar 561)

”Tidak ada satu pun musibah yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah SWT, dan barang siapa yang beriman kepada Allah SWT niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS At Taghabun [64]: 11).

Iman kepada takdir adalah pilar kehidupan yang Allah SWT anugerahkan kepada setiap hambanya yang beriman. Dengan mengimani takdir seseorang akan mampu dan siap mengarungi bahtera kehidupan dengan sempurna, karena iman kepada takdir akan menumbuhkan sifat positif. Dengan begitu, dia akan senantiasa berada dalam keseimbangan.

Di antara sifat positif itu adalah, pertama, dengan iman kapada takdir seseorang akan selalu dalam kebaikan. Bersyukur ketika Allah SWT memberikan nikmat dan bersabar serta tawakal ketika Allah memberikan musibah. Hal ini bertolak belakang dengan kebanyakan manusia pada umumnya, sebagaimana firman-Nya, ”Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri, akan tetapi apabila ia ditimpa malapetaka maka ia banyak berdoa.” (QS Fushshilat [41]: 51).

Kedua, dengan iman kepada takdir, seseorang akan senatiasa bekerja keras dan istikamah. Karena, ia percaya dan mengimani bahwa Allah SWT tidak akan mengubah nasib seseorang kecuali dengan usahanya sendiri. Allah SWT berfirman, ”Sesungguhnya Allah SWT tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS Ar-Ra`du [13]: 11).

Ketiga, dengan iman kepada takdir berarti mengimani bahwa musibah dan bencana yang datang bukan hanya merupakan kodrat Ilahi, namun juga dikarenakan kesalahan manusia sendiri. Sehingga, akan senantiasa mawas diri, selalu berhati-hati, tidak menyombongkan diri dan menghentikan segala perbuatan yang dapat mendatangkan kerusakan dan Adzab Allah SWT. Sebagaimana firman-Nya, ”Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah nikmat dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri.” (QS An-Nisaa [4]: 79).

Jelaslah, iman pada takdir bukan berarti kita diam tak berdaya dan memasrahkan semua pada takdir. Atau menyalahkan semua kejadian buruk yang menimpa kita dengan kilah, ”Takdirku sungguh kejam.”

Karena mengimani takdir sesungguhnya adalah motivasi bagi kita untuk berbuat yang terbaik. Ingat, Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum jika kaum itu tidak berusaha mengubah nasibnya sendiri. Wallahu a`lam bish-shawab.

Minggu, 20 April 2014

Membangun Masa Depan dengan Kejujuran

“KEPERCAYAAN adalah pelumas yang sangat vital untuk suatu sistem sosial agar berjalan dengan baik. (…) Sayangnya, ia bukanlah barang dagangan yang sangat mudah dibeli. Jika Anda harus membelinya, berarti Anda telah memiliki keraguan tertentu tentang apa yang Anda beli.” Demikian Kenneth Arrow seperti dikutip Francis Fukuyama dalam bukunya Trust The Social Virtues and the Creation of Prosperity.
Kepercayaan adalah suatu prestasi psikologis yang digapai karena adanya nilai kejujuran dan kesetiaan pada diri seseorang atau suatu institusi. Kepercayaan akan semakin menguat ketika kejujuran dan kesetiaan itu adalah bersifat alami, nyata, dan dilandasi oleh ketulusan niat.
Sebaliknya, ia bisa jadi melemah, pudar dan hilang manakala kejujuran dan kesetiaan itu suatu rekayasa bermotif, ilusi dan didasarkan pada kepentingan sesaat yang tidak berpihak pada kemaslahatan bersama.
Kejujuran adalah nilai universal yang dianggap baik oleh semua bangsa, ras dan agama, sebagaimana kebohongan dianggap sebagai aib oleh semua yang berfikiran waras. Pada masyarakat yang masih sehat dengan sistem sosial yang baik, kejujuran adalah penentu nilai harga diri.
Sayangnya, pada masyarakat yang sakit dengan sistem sosial yang jelek, banyak sekali yang tertipu dengan membeli harga diri dan masa depannya dengan kebohongan. Demi gengsi dan “harga diri”, kebohongan dilakukan secara masif dan berulang bahkan dilembagakan secara sistematis.
Adakah kebohongan yang dilakukan massif dan dilembagakan secara sistematis? Buku The Sicilian Mafia: The Business of Private Protection memberikan contoh nyata yang terjadi di Italia Utara. Seorang ayah yang meminta anaknya melompat dari atas pohon yang tinggi dengan janji akan ditangkap sebelum terjatuh ke tanah ternyata berbohong dan membiarkan anaknya tersungkur berdasar-darah.
Ketika sang anak protes, dengan santai sang ayah berkata: “Kamu harus belajar tidak percaya pada siapapun, termasuk pada ayahmu sendiri.” Ternyata, prinsip seperti ini “memasyarakat” ketika tidak tersisa lagi modal sosial bernama kejujuran.
Mari kita jujur melihat fakta di negeri kita. Kita mulai dari dunia pendidikan, sebuah dunia yang diharapkan menanamkan kejujuran pada anak didik agar kelak menjadi manusia pembangunan yang tidak menyakiti rakyat dengan angka-angka mengagumkan yang menjadi “penutup” fakta aib pembangunan yang begitu parah.
Kita ambil satu bagian saja sebagai contoh, yakni Ujian Nasional (UN) yang baru berlangsung untuk tingkat SMU dan yang sederajat. Sudahkah UN dibuat dan dilaksanakan atas dasar kejujuran?
Fakta UN menyodorkan banyak hal yang bertentangan dengan kejujuran. Antara lain: pertama, maraknya praktek joki yang menawarkan jawaban jitu pada berbagai model soal adalah bukti bahwa soal UN telah bocor.
Kedua, pembiaran peserta UN membawa alat komunikasi ke dalam ruangan serta ketidakseriusan pengawas untuk secara ketat menjaga obyektifitas adalah jalan sesat yang melumrahkan kebohongan pada anak didik. Ketiga, kualitas soal yang di luar kurikulum serta masuknya nama salah satu calon presiden dalam soal bahasa Indonesia dan bahasa Inggris yang dianggap disengaja bernuansa politis telah menanamkan “pesan” pada peserta ujian untuk tidak perlu terlalu percaya pada kurikulum.
Semua fakta di atas sungguh meruntuhkan nilai kejujuran, obyektifitas dan sportifitas yang memiliki efek sosial dan psikologis luar biasa pada masa depan bangsa. Sangat bisa jadi murid yang jujur dan berprestasi selama tiga tahun dikalahkan oleh murid yang tidak berprestasi tetapi lulus dengan nilai tinggi karena bantuan joki. Walau nilai bukan satu-satunya ukuran, tapi bukan mustahil pada gilirannya bangsa ini dipimpin dan dikendalikan oleh orang-orang yang “kecerdasannya” adalah palsu, polesan dan dibangun di atas kebohongan.
Dalam dunia politik, kita bisa memberikan cacatan panjang tentang hilangnya nilai kejujuran ini. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa fakta dan janji yang disampaikan pada masa kampanye tidaklah semuanya benar. Kebanyakan rakyat sudah tahu, baik karena pengalaman sendiri atau karena melalui media tentang jual beli suara dan praktek money politics lainnya. Herannya, dengan bangga yang terpilih berkata “rakyat memilih kami sebagai wakilnya,” padahal yang benar adalah “kami memaksa rakyat untuk membeli kami.” Bagaimanakah nasib masa depan bangsa ketika dipegang oleh orang-orang yang bermental sakit seperti ini?
Nabi Muhammad bersabda bahwa kejujuran akan mengantarkan pada kebaikan,dan kebaikan itu akan mengantarkan pada surga. Kebohongan akan mengantarkan pada kejahatan, dan kejahatan itu akan mengantarkan pada neraka.
Hadits (sabda) beliau ini mengisyarahkan bahwa sesuatu yang dibangun di atas kejujuran akan menghasilkan kebajikan dan kebahagiaan, sementara sesuatu yang dibangun di atas kebohongan akan memproduksi tindak kejahatan dan kondisi yang memenderitakan.
Jujur dalam bahasa arabnya disebut shiddiq dari akar kata shidq (bermakna benar), menjadi salah satu dari empat sifat yang harus dimiliki oleh setiap rasul (utusan) yang diberi mandat untuk mengatur dan memimpin masyarakat.
Dalam al-Qur’an ada lima kata yang digandengan dengan kata shidq yang menurut sebagian ahli tafsir diyakini sebagai buah dari kejujuran: QS 17:80 menyebut madkhala shidq (jalan masuk yang benar) dan makhraja shidq (jalan keluar yang benar); QS 26: 84 dan QS 19: 50 menyebut lisaana shiqd (buah tutur yang baik); QS 10: 2 menyebut qadama shidq (kedudukan yang tinggi); dan QS 54: 55 menyebut maq’ada shidq (tempat yang disenangi atau surga).
Ibn Qayyim al-Jawziyah dalam Madaarij al-Saalikiin membahas lima konteks kejujuran tersebut secara detail. Kesimpulannya adalah bahwa ayat-ayat yang disebut menunjukkan bahwa orang-orang dan institusi yang konsisten dalam kejujuran tidak akan dibiarkan kecewa oleh Allah.
Bagi mereka akan selalu ada bimbingan menuju arah yang benar dan keluar dari permasalahan lewat jalan yang benar. Lebih dari itu mereka akan senantiasa dikenang sebagai orang-orang yang baik, mendapatkan tempat yang mulia di hati masyarakat dan disediakan surga yang penuh kebahagiaan abadi.
Harus ada upaya bersama untuk menjadikan masyarakat Indonesia sebagai high trust society,bukan low trust society. Upaya ini wajib dimulai dari dan didasarkan pada kejujuran semua elemen dalam kondisi apapun. Kesetiaan pada janji (dalam bahasa Chinanya disebut chung, dalam bahasa Jepang disebut chu) semakna dengan kejujuran pada hati nurani. Tidak ada yang bisa diharapkan dari orang yang tidak jujur dan setia pada janji yang dibuat kecuali pengkhianatan, cepat atau lambat.
Pilpres (Pemilihan presiden) yang akan dilaksanakan pada 9 Juli 2014 adalah pembuktian kesungguhan kita untuk membangun negara ini di atas pondasi kejujuran. Harus ada upaya bersama untuk memilih yang paling jujur, yang mau dengan tegas dan profesional bersama dengan rakyat membangun masa depan.
Kita harus membaca dengan serius riwayat hidup dan riwayat kerja para calon presiden dan wakil calon presiden. Mereka yang selalu merekayasa kesan diri dengan menyembunyikan diri yang asli serta tidak pernah tuntas menunaikan janji-janji tidaklah layak untuk dipilih dan dipuji. [*]

Jumat, 18 April 2014

Hikmah Puasa Sunah Senin dan Kamis

Assalamu'alaiku Sahabat AK561
Sahabat saya mau berbagi info tentang program baru di AK561 ni... yang sudah dimulai dari minggu kemarin, mau tau apa program baru yang dilaksanakan di AK561? Kali ini AK561 mengajarkan kepada anak-anak untuk belajar Puasa Sunah senin dan kamis, wah hebat ya.. masih kecil  teman-teman kita yang ada di AK561 memulai melaksanakan puasa senin dan kamis dan mereka sangat antusias Lho.... !! Ayo kapan kita memulainya...? masa kalah sama anak-anak Hm.... :v

Oh iya sahabat AK561, dengan puasa Senin dan Kamis itu sangat besar sekali hikmahnya... Mau tau hikmah Ouasa Sunah... Ayo kita simak... :v
Sebagai sebuah sunah, shaum atau puasa sunnah Senin Kamis memang kedudukan hukumnya “hanyalah” anjuran. Yang biasanya diartikan: jika dilakukan berpahala dan jika tidak dilakukan tidak berdosa. Padahal jika kita mau jujur, sesungguhnya puasa sunnah, seperti juga ibadah-ibadah sunnah lainnya, jika kita tinggalkan maka kita akan rugi. Karena berkurang sudah pahala kebaikan yang semestinya akan kita dapatkan jika kita melakukannya. Tak hanya itu, tetapi jauh lebih penting dari itu adalah lebih dekatnya kita kepada Allah Swt, karena semua amalan sunnah adalah ibadah tambahan sebagai sarana untuk lebih dekat kepada Tuhan Sang Maha Pencipta, Allah ‘Azza wa Jalla.
Mengapa Mesti Puasa Sunnah Senin Kamis?
Ketika Nabi kita (saw.) ditanya mengapa beliau berpuasa pada hari Senin, beliau menjawab: “Ia adalah hari kelahiranku, hari aku diutus dan hari diturunkan Alquran kepadaku” (HR. Muslim)…maka dari itu bila kita puasa pada hari kelahiran tidak ada masalahnya, yang penting niatnya kita yang lurus dan karena ALLoh kita berpuasa.
Pada hadis yang lain, Rasullullah saw pun bersabda: “Berbagai amalan dihadapkan (pada Allah) pada hari Senin dan Kamis, maka aku suka jika amalanku dihadapkan sedangkan aku sedang berpuasa.” (HR. Tirmidzi). Selain keutamaan tersebut, ternyata pada Senin dan Kamis-lah catatan amal kita dilaporkan kepada Allah. Tentunya jika Anda akan menghadapkan laporan atau tugas akhir kepada atasan atau dosen penguji, tidak mungkin dengan penampilan seadanya dengan sampul berkas yang lusuh. Apalagi catatan amal yang hendak dilaporkan. Alangkah indahnya jika catatan amal itu dibuka dan ditutup dengan dokumentasi ketika Anda sedang puasa sunnah Senin Kamis.
Itu adalah keutamaan beribadah di hari Senin dan Kamis secara religius atau nilai-nilai agama. Lantas, bagaimana keutamaan berpuasa di hari-hari tersebut berdasarkan logika manusia? Coba Anda perhatikan, hari Senin dan Kamis membagi hari-hari dalam satu minggu ke dalam dua bagian yang sama rata. Jika direnungi, ini adalah waktu yang berkala, teratur. Seperti halnya minum obat, dokter akan menyarankan kita untuk meminum obat secara teratur, misalnya setiap 6 jam sekali.
Begitu juga dengan puasa Senin Kamis. Dipilihnya Senin dan Kamis sebagai hari berpuasa sunnah adalah kebijaksanaan Allah untuk menjaga manusia tetap sehat, di samping untuk beribadah kepada-Nya dengan taat. Jika puasa Senin Kamis dilakukan teratur, berarti kita memelihara kesehatan tubuh secara teratur juga. Kita membersihkan dan mengistirahatkan saluran pencernaan selama 2 kali dalam seminggu, yakni Senin dan Kamis. Dengan demikian tentu tubuh kita lama kelamaan menjadi lebih sehat dan bugar.
Bagaimana Menjalankan Puasa Sunnah Senin Kamis?
Tidak seperti puasa Ramadhan yang wajib, puasa sunnah bisa kita lakukan tanpa niat sebelum waktu subuh. Bahkan jika Anda lupa makan pagi, lalu berniat menjadikan hari itu untuk puasa sunnah, sah-sah saja. Karena Rasulullah saw pernah datang kepada Aisyah pada selain bulan Ramadhan, kemudian beliau bersabda: “Apakah engkau punya santapan siang? Jika tidak ada, aku akan berpuasa.” (HR. Muslim). Tetapi, alangkah baiknya jika Anda tetap menyengaja makan sahur terlebih dahulu sebelum puasa, karena banyak keberkahan di dalamnya.
Apakah Puasa Sunnah Senin Kamis Membuat Badan Kita Sakit?
Tentu saja jawabannya: tidak! Jika lemas mungkin saja iya, tergantung kekuatan niat, mental, dan pikiran orang yang menjalankannya. Sepertinya Anda tidak akan merasa sakit atau lemas lagi jika mengetahui dampak puasa bagi tubuh manusia, seperti yang ditulis oleh Dr. Allan Cott M.D, seorang dokter ahli Orthomolecular psikiatri, yang banyak menghabiskan waktunya di Amerika, Kanada, dan Eropa, yang memperkenalkan metode penyembuhan dengan puasa. Dalam bukunya yang berjudul “Why Fast?” dia menulis efek dari puasa, antara lain:
  1. Merasa lebih baik secara fisik dan mental.
  2. Agar terlihat dan merasa lebih muda.
  3. Membersihkan badan.
  4. Menurunkan tekanan darah dan kadar lemak.
  5. Lebih mampu mengendalikan seks.
  6. membuat tubuh sehat dengan sendirinya.
  7. Mengendorkan/melepaskan ketegangan jiwa.
  8. Menajamkan fungsi indrawi.
  9. Memperoleh kemampuan mengendalikan diri sendiri.
  10. Memperlambat proses penuaan.
Apa Saja Keutamaan Puasa Sunnah Senin Kamis?
Setiap ibadah pasti memiliki keutamaan dan hikmah tersendiri, begitu juga dengan puasa sunnah Senin Kamis. Bagaimanapun baiknya keutamaan dan hikmah puasa Senin Kamis, semua itu tergantung pada niat kita untuk menjalankannya. Ikhlaskan niat untuk beribadah kepada Allah, maka selain akan lebih dekat dengan-Nya, Anda juga akan mampu mendapatkan keutamaan-keutamaan puasa Senin Kamis. Inilah beberapa di antaranya:
1.Menghindarkan diri dari dosa
Puasa sunnah yang satu ini merupakan ajang ‘anger management’ atau ajang melatih kesabaran dan menghindarkan diri dari hal-hal yang menimbulkan dosa. Jika dilakukan secara berkala, otomatis diri Anda akan lebih mampu menahan emosi. Dengan puasa Senin Kamis, diri Anda menjadi lebih bersih dalam hal emosi dan spiritual. Karena itu puasa sunnah ini dapat disebut sebagai zakat jiwa. Seperti disebutkan dalam hadis, “Segala sesuatu itu ada zakatnya, sedang zakat jiwa itu adalah berpuasa. Dan puasa itu separuh dari kesabaran.” (H.R. Ibnu Majah).
Dalam hadis lain, disebutkan pula keutamaan puasa sunnah ini sebagai ajang latihan ‘anger management’ dan penghindaran diri dari perbuatan dosa, yakni: “Puasa adalah benteng yang membentengi seseorang dari api neraka yang membara.” (H.R. Ahmad dan Baihaqi).
2.Meningkatkan amalan
Jika pada hari-hari biasa Anda cenderung malas beribadah dan beraktivitas karena merasa kekenyangan, puasa Senin Kamis adalah jalan keluar dari kemalasan. Puasa membuat hati kita lebih bersih sehingga produktivitas dalam meningkatkan amalan pun meningkat. Pasalnya, orang yang berpuasa cenderung ingin berbuat baik lebih banyak dari biasanya. Puasa juga melembutkan hati karena kita jadi memahami nasib dan rasa lapar mereka yang kurang beruntung. Singkatnya, puasa Senin Kamis mendekatkan kita kepada Allah.
3.Tubuh lebih sehat
Seperti disebutkan sebelumnya, puasa membantu tubuh kita untuk menjadi lebih sehat. Berpuasa secara teratur berarti membatasi makan secara berlebihan dan membatasi jumlah kalori yang masuk ke dalam tubuh. Merupakan rahasia umum bahwa makan berlebihan bisa mencetuskan timbulnya penyakit. Dengan menahan lapar dan haus saat berpuasa, berarti kita menolak segala jenis penyakit yang disebabkan oleh pola makan dan asupan kalori, seperti diabetes, obesitas, dan penyakit jantung.
Puasa sunnah Senin Kamis secara teratur juga bermanfaat untuk mengistirahatkan sekaligus membersihkan sistem pencernaan. Selama puasa, lebih dari 10 jam lambung kita dibiarkan diam tidak bekerja, sehingga dapat beristirahat. Bandingkan dengan selama tidak berpuasa, kita cenderung terus mengonsumsi sesuatu dan hanya berhenti saat kita tidur. Itu berarti pencernaan kita tidak beristirahat dengan cukup. Jika saluran cerna diistirahatkan, organ-organ tubuh yang lain mampu bekerja lebih maksimal sehingga kita menjadi lebih sehat dan tidak mudah sakit

Rabu, 16 April 2014

Harta Hanya Titipan

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang membuat demikian maka itulah orang-orang yang rugi”.
(Qs. Al-Munafiqun [63]: 9)


Tidak dapat kita bantah bahwa harta merupakan salah satu pangkal kehidupan, dasar asasi bagi segala rupa pekejaan dan penegak keutuhan rumah tangga. Didalam cara mencarinya hendaklah tetap berpegang pada prinsif kebenaran agar kita tidak jatuh pada kesesatan, hati dan aqidah tetap terbentengi dengan kebaikan. Sadarilah, harta benda, kedudukan dan kesempatan yang kita miliki adalah amanat Allah yang wajib kita pelihara dan kita tunaikan dengan baik. Muhammad Mahdi al-Naraqi dalam “Jami’us Sa’adah” beliau menulis; Penyakit dunia yang paling parah yang berkaitan dengan potensi syahwat adalah harta. Karena itu orang yang rakus membutuhkan harta dan tidak merasa puas . sehingga ketika ia menjadi tingkat kefakiran dan mencapai tingkat pelampauan batas yang akibatnya merugikan. Ia tidak dapat memisahkan antara faedah dan penyakit. Bahkan ia tidak mampu membedakan antara kebaikan dan keburukannya, sehingga ketika kehilangan hartanya ia menduduk sifat kefakiran dan ketika mendapatkannya ia menduduki sifat kaya.

Dengan dua keadaan ini ia mendapat ujian. Al-Qur’an dan Sunnah menjelaskan tentang tercelanya harta serta kehinaaan mencintainya secara berlebihan. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang membuat demikian maka itulah orang-orang yang rugi”. (Qs. Al-Munafiqun [53]:9) . 

Dalam ayat yang lain Allah mengingatkan;
“Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan dan sesungguhnya di
sisi Allah pahala yang besar”. (al-Anfal [8]: 28).


Tepat apa yang dikatakan oleh seorang bijak, harta itu seperti ular yang didalamnya ada racun penawar. Yang berbahaya adalah racunnya dan yang befaedah adalah penawarnya. Barang siapa yang mengetahui keduanya akan dapat menyelamatkan diri dari keburukannya dan dapat mengambil manfaat serta kebaikannya. Manusia baik secara pribadi, keluarga ataupun masyarakat. Betapapun dapat meraih apa yang diinginkannya, tetapi ketika cara mendapatkannya tidak sesuai dengan apa yang Allah syariatkan, maka pasti akan mengalami kehancuran. Jiwa tidak merasa terpuaskan, hidup selalu dihantui rasa takut yang menggelisahkan. Itulah orang-orang yang menjadikan harta dunia sebagai Tuhan. Allah menegaskan dalam firman-Nya; “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakan tutupan atas penglihatannya?. Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran”. (Qs.Al-Jatsiah [45]: 23).

Ketahuilah sahabat, bila kita secara individu maupun masyarakat terlalu berlebihan memberikan prioritas pada urusan materi (harta), tidak mungkin cenderung kepada moralitas yang menuntut ketaatan sepenuhnya pada hukum-hukum kehidupan yang telah digariskan. Orang yang mengesampingkan segala urusan selain uang dan uang dalam perjuangan hari-harinya, tidak dapat berpegang pada etika keadilan dan kebenaran dan cenderung pada kesalahan. Catatlah dalam hati, Bahwa cinta dunia adalah pangkal segala kesalahan. Buah dari kecintaan yang berlebihan terhadap harta (dunia) akan membawa pelakunya pada beberapa keadaan. Di antaranya adalah:

Mencintainya akan mengakibatkan mengagungkannya
Mencintainya akan menyibukan kehidupannya, hingga lalai terhadap kewajibannya.Pecinta dunia akan mendapat azab yang berat dan disiksa di tiga negeri, yaitu; 
di alam dunia ia di azab dengan kerja keras untuk mendapatkannya. Di alam barzakh ia di azab dengan perpisahan dari apa yang dicintainya, dan di alam akhirat ia akan diazab untuk mempertanggungjawabkan tentang dunia yang dimilikinya Hanya kepada Allah sajalah kita mohonkan perlindungan. Dialah yang tidak ada kekuasaan melebihi kekuasaan-Nya. Tidak ada yang mampu menghancurkan apa yang telah dibangun-Nya. Tidak ada sesuatupun yang mampu memberi petunjuk bagi siapa yang telah disesatkan-Nya. kepada-Nyalah kembali segala apa yang diciptakan.

Ya Allah pemilik seruan yang sempurna, peneguh hati yang kerap terlena. Jangan Engkau biarkan hati kami terlena oleh rayuan dunia yang fana. Mudahkan diri ini untuk selalu mensyukuri setiap kenikmatan yang kami terima. Hindarkan diri kami ya Rabb..dari orang-orang yang selalu bebuat durjana. Kuatkan diri kami untuk selalu melakukan perbuatan yang mulia. Janganlah Engkau campakan kami menjadi hamba-hamba yang terhina.


Sumber: http://adynux.blogspot.com/2008/12/harta-adalah-titipan.html?m=1

Selasa, 15 April 2014

Kisah Si Tukang Kayu

Assalamu'alaikum Sahabat AK561

Bagaimna kabar sahabat semua? Semoga dalam keadaan baik dan kita selalu ada dalam ridho-Nya.
Sahabat AK561 kali ini saya akan sedikit share tentang sebuah cerita yang saya dapatkan dari seorang Dosen beberapa hari yang lalu dimna menurut saya dalam cerita ini ada nilai-nilai moral dan motivasi yang bisa kita petik. langsung aja yuk kita simak ceritanya... :v

Dikisahkan ada seorang Tukang/buruh kayu yang bekerja pada sebuah perusahaan kayu sudah cukup lama, dan dia juga merasa kalau usianya semakin tua sehingga dia memutuskan untuk pensiun dari perusahaan tersebut. Singkat cerita si tukang kayu menghadap pada Bos perusahaan kayu tersebut dan dia menceritakan tentang perihal keinginannya untuk pensiun/keluar dari perusahaan. Kemudian Bos perusahaan kayu sedikit kecewa dan menyayangkan dengan pengajuan/keinginan si tukang kayu, karena Tukang tersebut merupakan karyawan yang sudah bisa dipercaya dan mempunyai jejak yang bagus pada perusahaan.

Tetapi tidak bisa dipungkiri karena memang haknya seorang karyawan untuk mengajukan pengunduran dirinya dan Bos pun dengan berat hati menyetujui pengunduran dirinya si Tukang kayu tersebut, dengan syarat dia harus membangunkan sebuah rumah dengan bahan dan kwalitas kayunya paling bagus dimana itu merupakan proyek terakhirnya, dan harus dikerjakan dalam kurun waktu si Bos pergi keluar kota, kurang lebih 40 hari. Maka tidak banyak tanya Tukang kayu tersebut langsung menyetujui persaratan yang si Bos ajukan.

Maka singkat cerita si Tukang kayu mengerjakan pembuatan Rumah yang merupakan tugas/proyek terakhirnya. Tetapi dalam benaknya terlintas pikiran kalau dia akan keluar dari perusahaan sehingga dia berpikir kalaupun dia mengerjakan rumah tersebut dengan kwalitas bahan yang biasa/kurang bagus, maka si Bos tidak akan memarahinya karena dia akan pensiun dari perusahaan itu. Dan selesailah pengerjaan rumah tersebut dan ketika si Bos pulang Tukang kayu langsung menyerahkan Kunci rumah yang telah dia bangun, dan ternyata si Bos mengembalikan kuncinya kembali kepada si tukang kayu sambil mengatakan "Rumah yang telah kamu bangun kemarin itu merupakan hadiah atas semua pengabdianmu kepada perusahaan". Dengan terheran-heran dan rasa penyesalan dia terima kembali kunci rumah tersebut, karena dia tidak mengira kalau rumah yang dia bangun itu akan dihadiahkan kepadanya.

Sahabat AK561, apa saja yang bisa sahabat petik dari kisah di atas..?
Diantaranya semua keputusan akan kembali pada diri kita sendiri, maka berhati-hatilah dalam bertindak, jangan sampai merugikan orang lain dan tentunya jangan sampai kita menyia-nyiakan amanah yang telah di bebankan kepada kita.

__________________________________________________________________________
Bank Mandiri atas nama "yayasan Al Kautsar 561" Norek: 131 00 10189498.
BCA KCP BTC 5140139230 atau
BNI cab ITB 0063788860, atau
BRI cab Polban 154901001010504
atas nama: Tati Susilawati dan mohon sisipkan berita atau konfirmasi ke 08122469045 / PIN 2293EA61.
Semoga Alloh menggantinya dengan yang jauh lebih baik&lebih banyak dan memudahkan semua urusan bapak/ibu ...aamiiin. Jazakallohu khoiron katsiron.

Senin, 14 April 2014

Pelatihan IT

Assalamu'alaikum sahabat Ak561


Sabtu kemarin tgl 12 April 2014 Al-Kautsar 561 kedatangan tamu dari Mahasiswa Polban, mereka memberikan pelatihan IT Komputer kepada anak-anak santri AK561 dan kepada asatidz,,,,, ilmu yang mereka ajarkan kepada anak-anak adalah dasar- dasar Microsoft,, dan untuk para asatidz mereka mengajarkan terkait desain grafis di corel draw. Alhamdulillah ilmu yang mereka ajarkan sangat bermanfaat sekali,,, anak- anak menjadi sangat senang,. Mahasiswa Polban kemarin yang datang sekitar 18 Orang,,, santri sekitar 25 orang,, dan asatidz (+peserta dari luar) sekitar 19 Orang. Kegiatannya dari jam 4 Sore sampai jam 8 Malam.
Terima kasih kakak- kakak Mahasiswa Polban atas ilmunya, semoga menjadi amal jariah buat antum semua.


Al-Kautsar 561 menerima zakat/infak/shodaqoh/wakaf untuk pengembangan pondok pesantren yg salah satu programnya 'mencerdaskan anak2 yatim&pra-sejahtera'. Biaya hidup dan pendidikan mereka cukup besar. Pondok santri dan rumah kediaman ustadz-pun sedang menjadi prioritas kami. Pengembangan tanah wakaf untuk pengembangan pondok, mesjid dan lahan produktif juga terus dijalankan.
Mari kita turut serta dalam 1 langkah mencerdaskan anak bangsa dari desa.

Semoga Alloh swt memberkahi kita semua.









_________________________________________________________________________________
Bank Mandiri atas nama "yayasan Al Kautsar 561" Norek: 131 00 10189498.
BCA KCP BTC 5140139230 atau
BNI cab ITB 0063788860, atau
BRI cab Polban 154901001010504
atas nama: Tati Susilawati dan mohon sisipkan berita atau konfirmasi ke 08122469045 / PIN 2293EA61.
Semoga Alloh menggantinya dengan yang jauh lebih baik&lebih banyak dan memudahkan semua urusan bapak/ibu ...aamiiin. Jazakallohu khoiron katsiron.

Kamis, 10 April 2014

Pembangunan Rumah Ustadz

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Sahabat AK561, kali ini AK561 akan share tentang Pembangunan Rumah Ustadz, dimana ini juga merupakan salah satu upaya AK561 untuk menyediakan sarana/prasarana dalam penyediaan pendidikan. Rumah ustadz sangat diperlukan sebagai tempat tinggal untuk ustadz yang akan mengajar di AK561. 

Ahamdulilah Pembangunan Rumah Ustadz ini terus berjalan sekrang sudah 55% terealisasi. Perkiraan dana masih kurang Rp. 60.000.000,- tentunya itu bukan dana yang sedikit dan tidak ada yang sulit kalau kita bergotong royong bersama-sama untuk membangunnya, jadi kami selalu membuka pintu lebar-lebar bagi siapa saja yang ingin ikut serta dalam membangun Pesanter AK561 dan kami ucapkan "Jajakalloh Khoiron Katsiro" bagi para sahabat yang telah ikut berpartisipasi dalam pembangunan ini baik yang berbentuk materi ataupun non materi. 

Sahabat AK561 Rumah Ustadz ini, selain kita peruntukan tempat tinggal Ustadz yang nantinya akan memimpin pesantren juga akan difungsikan sebagai tempat untuk belajar santri jadi tentunya sangatlah besar manfa'atnya bagi umat. 
  
______________________________________________________________________________
Bagi yang akan berpartisipasi dalam dakwah ini silahkan ke: 
      Bank Mandiri atas nama "yayasan Al Kautsar 561" Norek: 131 00 10189498. 
      BCA KCP BTC 5140139230 atau atas nama: Tati Susilawati 
      BNI cab ITB 0063788860, atas nama: Tati Susilawati dan konfirmasi ke 08122469045 / 
      PIN 2293EA61. Semoga Alloh menggantinya dengan yang jauh lebih baik&lebih banyak 
      di dunia+akhirat dan memudahkan semua urusan ...aamiiin.



Senin, 07 April 2014

Kisah Pemabuk Dan Anak Yatim

Bismillahirr Rahmanirr Rahim ...
Dikisahkan, seorang salaf berkata, “ Dahulu aku adalah seorang yang tenggelam dalam berbagai macam perbuatan maksiat dan mabuk-mabukan. Pada suatu hari aku menemukan seorang anak yatim yang miskin. Lalu aku ambil anak yatim itu dan aku berbuat baik kepadanya"
Aku beri ia makan, pakaian, dan aku mandikan ia sampai bersih semua kotoran yang menempel di tubuhnya, dari ujung rambut sampai ujung kaki. Aku menyayanginya seperti seorang ayah menyayangi anaknya, bahkan lebih. Malamnya aku tidur dan bermimpi bahwa kiamat sudah tiba. Aku dipanggil menuju hisab. Kemudian aku diperintahkan untuk masuk neraka karena banyaknya dosa dan maksiat yang aku kerjakan.
Malaikat Zabaniyyah menyeretku untuk memasukkanku ke dalam neraka. Saat itu aku merasa kecil dan hina di hadapan mereka. Tiba-tiba anak yatim itu menghadang di tengah jalan sambil berkata, ‘Tinggalkan ia wahai malaikat Rabb-ku! Biarlah aku memintakan syafaat untuknya kepada Rabb-ku! Dialah yang dulu telah berbuat baik kepadaku, telah memuliakanku!’
Malaikat berkata, ‘Tetapi aku tidak diperintahkan untuk itu.’ Sekonyong-konyong terdengar seruan dari Allah, firman-Nya, ‘ Biarkan dia, sungguh Aku telah mengampuninya dengan syafaat anak yatim itu dan kebaikannya kepadanya!’ Lalu aku terbangun dan aku pun bertaubat kepada Allah ‘azza wa jalla, dan saya terus berusaha semaksimal mungkin untuk mencurahkan kasih sayang kepada anak-anak yatim.”
---------------
Dalam sebuah riwayat Rasululllah saw bersabda :
"Barangsiapa meletakkan tangannya di atas kepala anak yatim dengan penuh kasih sayang, maka Allah akan menuliskan kebaikan pada setiap lembar rambut yang disentuh tangannya. (HR. Ahmad, Ath-Thabrani, Ibnu Hibban, Ibnu Abi Aufa)
"Sesungguhnya, seorang laki-laki mengeluh kepada Nabi s.a.w., karena hatinya yang keras. Nabi s.a.w. berkata: -'Usaplah kepala yatim, dan berilah makan orang miskin'. (HR. Ahmad)
----Orang yang memelihara, mengurus anak yatim dijamin masuk surga,---
"Aku dan pemelihara anak yatim di surga seperti ini (dan beliau memberi isyarat dengan telunjuk dan jari tengahnya, lalu membukanya (HR. Bukhari, Turmudzi, Abu Daud)
"Barangsiapa mengambil anak yatim dari kalangan Muslimin, dan memberinya makan dan minum, Allah akan memasukkannya ke surga, kecuali bila is berbuat dosa besar yang tidak terampuni.( HR. Turmudzi)
Silahkan saudara-saudariku terkasih yang mau share atau co-pas, dengan senang hati. Semoga bermanfaat. Semoga pula Allah Ta'ala berikan pahala kepada yang membaca, yang menulis, yang menyebarkan, yang mengajarkan dan yang mengamalkan… Aamin, Aamiin, Aamiin ya Alloh ya Rabbal’alamin … 

Sumber: https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=291041650949760&id=156341124419814
_________________________________________________________________________________________
Bagi yang akan berpartisipasi dalam dakwah ini silahkan ke: 
      Bank Mandiri atas nama "yayasan Al Kautsar 561" Norek: 131 00 10189498. 
      BCA KCP BTC 5140139230 atau atas nama: Tati Susilawati 
      BNI cab ITB 0063788860, atas nama: Tati Susilawati dan konfirmasi ke 08122469045 / 
      PIN 2293EA61. Semoga Alloh menggantinya dengan yang jauh lebih baik&lebih banyak 
      di dunia+akhirat dan memudahkan semua urusan ...aamiiin.