Bersatu Lawan Covid-19

Ayo bersama kita sukseskan Gerakan #DiRumahAja dengan ikut donasi bagi kaum Du'afa yang kurang mampu. Kami siap membantu untuk menyalurkan

Wakaf Pesantren

Ayo Kita Raih Kesempatan Amal Jariyah dengan Ikut Membangun Pesantren Tahfidz Al-kautsar 561

Berbagi Kebahagiaan Dengan Yatim dan Du'afa

Mari kita berbagi kebahagiaan dengan para santri yatim dan du'afa penghafal quran, kita bantu wujudkan cita-cita mereka menjadi ilmuan yang hafal Alquran

Program Orang Tua Asuh

Hanya dengan menyisihkan min 20K anda sudah menjadi orang tua asuh para santri yatim du'afa penghafal Al-quran

YAYASAN YATIM & DU’AFA ALKAUTSAR 561, MENERIMA PENYALURAN ZAKAT, INFAQ, WAKAF DAN SHODAQOH

Senin, 29 September 2014

Amalan Pada 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah

Oleh : H. Aep Saepulloh Darusmanwiati MA.

Setelah pada postingan sebelumnya kita membahas keutamaan pada 10 Hari pertama di bulan Dzulhijjah, kali ini kita akan membahas amalan apasaja yang dapat dikerjakan. Tentunya apapun ibadah dan amal shaleh yang dapat dikerjakan didalamnya, pahalanya sangat istimewa dan luar biasa. Diantaranya adalah:

Pertama, berkurban bagi yang mampu. Rasulullah SAW dalam hal ini bersabda:

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – “مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحِّ, فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا” – رَوَاهُ أَحْمَدُ, وَابْنُ مَاجَه, وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ, لَكِنْ رَجَّحَ اَلْأَئِمَّةُ غَيْرُهُ وَقْفَه

Artinya: Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang memiliki kelapangan (rezeki) dan tidak berqurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami.” Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ibnu Majah. Al Hakim menshahihkannya.

Waktu yang palin baik untuk memotong hewan qurban menurut seluruh ulama empat adzhab adalah pada tanggal 10 Dzulhijjah setelah selesai shalat 'Id. Selain itu, bagi yang berniat untuk berkurban, tidak diperbolehkan baginya untuk memotong kuku, rambut, juga bulu-buluan yang ada pada tubuhnya. sejak tanggal 1 Dzulhijjah, sampai hewan kurbannya itu di sembelih.

Hal tersebut berdasarkan hadits yang  diriwayatkan oleh Ummu Salamah, isteri Rasulullah SAW berkata: "Rasulullah SAW bersabda: Siapa yang mempunyai hewan untuk dikurbankan, maka apabila hilal bulan dzulhijjah telah masuk (maksudnya telah masuk tanggal 1 Dzulhijjah), maka janganlah ia memotong rambut, dan kuku-kukunya sampai ia memotong hewan kurbannya.

Kedua, Imam Nawawi dalam sarahnya terhadap Shahih Muslim mengatakan: "puasa pada sembilan hari Dzulhijjah sangat dianjurkan ( sunnah muakkadah), terutama tanggal sembilannya, yaitu pada hari Arafah. Hal ini karena banyak hadits-hadits yang menjelaskan keutamaan-keutamaan hari-hari dimaksud". setelah mengatakan demikian, Imam nawawi lalu menukil sebuah hadits shahih riwayat Imam Bukhari yang menjelaskan keutamaan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah dimaksud. sedangkan hadits yang diriwayatkan sayyidah Aisyah yaitu ia berkata: "Aku tidak pernah meliha Rasulullah saw berpuasa pada sembilan hjari pertama bulan dzulhijjah sedikitpun" (HR. Muslim). Imam Nawawi ketika menjelaskan hadits tersebut dalam kitabnya al-minhaj, mengatakan: "Hadits diatas termasuk hadits yang dapat dita'wil. Puas pada sembilan hari pertama bulan Dulhijjah bukanlah sesuatu yang makruh, akan tetapi sunnah yang sangat ditekankan, terutama tanggal sembolan Dulhijjah, yaitu hari Arafah. Telah disebutka hadits-hadits yang menjelaskan keutamaannya. bahkan dalam shahih Bukhari juga disebutkan , bahwasannya rasulullah SAW bersabda: "Tidak ada hari-hari dimana amal shaleh yang dilakukan didalamnya lebih utama, selain amal-amal shaleh yang dilakukan pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah."

Hal tersebut diperkuat juga dengan hadits Hunaidah binti khalid dari istrinya, dari sebagian istri-istri Rasulullah SAW yang mengatakn bahwa Rasulullah SAW senantiasa berpuasa pada sembilan haeri pertama bulan Dzulhijjah, hari Asyura (tanggal 10 Muharram), tiga hari setiap bulan, dan puasa setiap hari Senin dan Kamis setiap bulannya. Hadits inui diriwayatkan opleh Imam Abu Daud, Ahmad dan Nasai. Redaksi diatas merupakan redaksi Abu Daud."

Ketiga, Membaca takbir (Allohu Akbar), tahlil (la ilaha illalloh), tahmid (alhamdulillah)) juga dzikir lainnya.

kalimat takbir ini lebih ditekankan lagi untuk dibaca setiap kali selesai shalat wajib sebanyak tiga kali, sejak setelah shalat Shubuh dari hari Arafah (tanggal 09 Dzulhijjah) sampai setelah shalat Ashar pada tanggal 13 Dzulhijjah (akhir hari tasyrik).

Keempat, melakukan ibadah-ibadah lainnya seperti shalat tahajud, sedekah, memperbanyak shalat sunnat baik rawatib maupun non rawatib, membaca al-Qur'an, membantu dan menolong sesama, juga amal-amal shaleh lainnya.

Dalam Hadits yang diriwayatkan oleh imam Bukhari  telah disebutkan tentang keutamaan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, Ibnu Rajab al-Hambalidalam al-Lathaif " Apabila amal shaleh yang dilakukan pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah ini lebih utama dan lebih dicintai oleh Allah dari hari-hari lainnya dalam seluruh tahun, maka amal shaleh apapun yang dikerjakan didalamnya - sekalipun amal shaleh tersebut biasa - lebih utama dari amal-amal shaleh lainnya yang dikerjakan pada hari-hari lain, sekalipun amal tersebut utama". Selanjutnya dalam kesempatan lain ibnu Rajab mengatakan , "Ini menunjukkan bahwa amal shaleh biasa yang dilakukan pada waktu istimewa akan menyamai (pahala) amal shaleh utama yang dikerjakan pada hari-hari bulan biasa. Bahka, dilebihkan dengan dilipatgandakan pahala dan balasannya". Wallahu A`lam bi-shawab

Jumat, 26 September 2014

Keutamaan 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah

Oleh : H. Aep Saepulloh Darusmanwiati MA.
(Kandidat Doktor Universitas Al-azhar Mesir) 

Menurut Ibnu Rajab dalam Lathaiful Ma'arif, diantara sebab Allah melipat gandakan pahala ibadah seseorang adalah karena kemuliaan melakukan waktu ibadahnya (syarafuz zaman).
Ibadah apapun yang dikerjakan pada waktu-waktu yang dimuliakan oleh Allah, maka ibadah tersebut menjadi istimewa, pahalanya dilipat gandakan, dan kedudukannya melebihi ibadah lainnya.

Diantara contoh yang dimuliakan oleh Allah dimaksud adalah, selain bulan Ramadhan adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Maksudnya adalah tanggal 1 sampai tanggal 10 dari bulan Dzulhijjah. Lalu, apa saja keutamaan dari sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah ini? diantara keutamaannya adalah:

Pertama, dalam surat Al-Fajr, Allah berfirman:

وَالْفَجْرِ ﴿١﴾ وَلَيَالٍ عَشْرٍ ﴿٢﴾ وَالشَّفْعِ وَالْوَتْرِ ﴿٣﴾ وَاللَّيْلِ إِذَا يَسْرِ ﴿٤﴾ هَلْ فِي ذَٰلِكَ قَسَمٌ لِّذِي حِجْرٍ ﴿٥

Artinya: "Demi fajar. Dan demi malam yang sepuluh. Dan demi yang genap dan yang ganjil. Dan demi malam bila berlalu. Pada yang demikian itu terdapat sumpah (yang dapat diterima) oleh orang-orang yang berakal." (QS. Al-Fajr [89] 1-5

 Jumhur ulama salaf maupun khalaf, seperti Abbas, Ikrimah, Abdullah bin Az-Zubair, Masruq bin Al-Ajda, Ad-Dhahhak, sebagaimana disampaikan Imam At-Thabrani dan Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat "dan demi malam yang sepuluh" berpendapat bahwa yang dimaksud malam yang sepuluh itu adalah sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah.

Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam kitabnya At-Tibyan Fi Aqsamil Quran : "Allah SWT. bersumpah dengan beberapa makhluk-Nya dan sumpahnya Allah dengan sebagaian makhluk-Nya menunjukan bahwa mkhluk yang disumpahinya itu termasuk diantara tanda kekuasaan-Nya yang agung, luarbiasa"

Kedua, sepuluh hari pertama bulan Djulhijjah termasuk waktu empat puluh malam dimana Allah bertemu dengan Nabi Musa as. bahkan, ia merupakan sepuluh penutup dari empat puluh malam dimaksud.

Dalam Surat Al-A'rof Allah menjelaskanbahwa Dia menjanjikan waktu selama empat puluh malam bertemu dengan Nabi Musa as, untuk menyampaikan ajaran Islam yang akan dibawanya berupa kitab Taurat. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya, yang artinya: "Dan telah kami janjikan kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah berlaku waktu tiga puluh mlam, dan kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi), maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhannya empat puluh malam." (QS. Al-A'raf [7] : 142)

Imam Ibnu Katsir mengatakan bahwa sebagian besar para ualam berpendapat, maksud tiga puluh hari pertama adalah bulan Dzjul Qa'dah sedangkan maksud sepuluh hari lagi sebagai penutup adalah sepuluh ahri pertama dari bulan Dzulhijjah. Pendapat ini, menurut Ibnu Katsir, adalah pendapatnya Mujahid, Maruq, Ibnu Juraij juga Ibnu Abbas.

Dengan demikian, lanjut Ibnu Katsir, waktu bertemunya Nabi Musa as. dengan Allah berakhir tepat pada hari raya Idul Adha (tangga 10 Dzulhijjah) atau dalam dalam sepuluh hari pertama bulan. Dan pada hari itu juga, Allah menyempurnakan agama Islam yang dibawa oleh SAW, sebgaimana firman-Nya: "Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmatku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu." (QS. Al-Maidah [5] :3). Tidak semata-mata Allah memilih waktu-waktu tersebut. Melainkan karena hari-hari yang dimaksud merupakan hari-hari yang sangat istimewa dan sangat dimuliakan.

Ketiga, sepuluh hari pertama bulan Dzulhijah merupakan hari-hari yang paling dicintai oleh Allah untuk melakukan berbagai ibadah didalamnya.

Dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori disebutkan : 

Dari Ibnu Abbas, Rosulluloh SAW. bersabda: "Tidak ada amal ibadah yang lebih utama selain yang dikerjakan pada sepuluh hari ini (maksudanya sepuluh hari pertama dari bulan Dzulhijjah)". Para sahabat bertanya: "Apakah sekalipun Jihad di jalan Allah?". Rasululah SAW. menjawab: "Sekalipun dari Jihad. kecuali seseorang yang keluar untuk ber Jihad dengan diri dan hartanya, lalu tidak ada sedikitpun yang pulang daripadanya" (HR. Bukhori)