Berbagi Kebahagiaan Dengan Yatim dan Du'afa

Mari kita berbagi kebahagiaan dengan para santri yatim dan du'afa penghafal quran, kita bantu wujudkan cita-cita mereka menjadi ilmuan yang hafal Alquran

Program Orang Tua Asuh

Hanya dengan menyisihkan min 20K anda sudah menjadi orang tua asuh para santri yatim du'afa penghafal Al-quran

YAYASAN YATIM & DU’AFA ALKAUTSAR 561, MENERIMA PENYALURAN ZAKAT, INFAQ, WAKAF DAN SHODAQOH

Rabu, 18 Januari 2023

AKHLAQ AL-KARIMAH ( Bab Iman & Tauhid )


IMAN DAN TAUHID

 

A.  PENGERTIAN IMAN

Iman secara etimologis berasal dari kata amana-yu’minu berarti tasdiq yaitu membenarkan mempercayai. Dan menurut istilah Iman ialah “Membenarkan degan hati diucapkan dengan lisan dan dibuktikan dengan amal perbuatan.” Dengan demikian, iman itu bukan sekedar pengertian dan keyakinan dalam hati; bukan sekedar ikrar dengan lisan dan bukan sekedar amal perbuatan saja tapi hati dan jiwa kosong. Imam Hasan Basri mengatakan “Iman secara etimologis berasal dari kata amana-yu’minu berarti tasdiq yaitu membenarkan mempercayai. Dan menurut istilah Iman ialah “Membenarkan degan hati diucapkan dengan lisan dan dibuktikan dengan amal perbuatan.

    Dengan demikian, iman itu bukan sekedar keyakinan dalam hati, bukan sekedar ikrar dengan lisan, dan bukan sekedar amal perbuatan saja tapi hati dan jiwa kosong yang melaksanakan ketiga-tiganya. Oleh karena itu Imam Hasan Basri mengatakan “Iman itu bukanlah sekedar angan-angan dan bukan pula sekedar basa-basi dengan ucapan akan tetapi sesuatu keyakinan yang terpatri dalam hati dan dibuktikan dengan amal perbuatan”.

    Oleh karena itu ada beberapa tahapan iman yang harus dilalui dalam ajaran islam yaitu :

1.    Dibenarkan di dalam qalbu (keyakinan mendalam akan kebenaran yang disampaikan)

2.    Diikrarkan dengan lisan (menyebarkan kebenaran)

3.    Diamalkan (merealisasikan iman dengan mengikuti Al-Quran dan contoh Rasul)

 

B.  REALISASI IMAN DALAM KEHIDUPAN (AKHLAK ADALAH CERMINAN DARI IMAN)

Implementasi dari sebuah keimanan seseorang adalah ia mampu berakhlak terpuji. Allah sangat menyukai hambanya yang mempunyai akhlak terpuji. Akhlak terpuji dalam islam disebut sebagai akhlak mahmudah. Beberapa contoh akhlak terpuji antara lain adalah bersikap jujur, bertanggung jawab, amanah, baik hati, tawadhu, istiqomah dan lain-lain. Sebagai umat islam kita mempunyai suri tauladan yang perlu untuk dicontoh atau diikuti yaitu nabi Muhammad SAW. Ia adalah sebaik-baik manusia yang berakhlak sempurna.

    Ketika Aisyah ditanya bagaimana akhlak rosul, maka ia menjawab bahwa akhlak rosul adalah Al-quran. Artinya rosul merupakan manusia yang menggambarkan akhlak seperti yang tertera di dalam Al-quran.

    Akhlak yang mulia adalah cerminan keimanan seseorang. Rendah tingginya akhlak menjadi indikator kuat bagi keimanannya. Semakin tinggi akhlak seseorang maka semakin tinggi pula keimanannya, dan sebaliknya. Rasulullah bersabda :

أَكْمَلُ المُؤمِنِينَ إِيمَاناً أَحسَنُهُم خُلُقاً

“Orang yang paling sempurna imannya adalah yang paling mulia akhlaknya.” (HR. Ath Thabrani dalam mu’jam ash shaghir no. 605)


لاَ إِيمَانَ لِمَنْ لاَ أَمَانَةَ لَهُ، وَلاَ دِينَ لِمَنْ لاَ عَهْدَ لَهُ

“Tidak ada iman bagi yang tidak memiliki amanah dan tidak ada agama bagi yang tidak menepati janji.”

Oleh karena itu, Nabi sering mengaitkan antara iman seseorang dengan akhlak. Bahkan lebih dari itu, beliau mensejajarkan kedudukan akhlak dengan iman. Sebagaimana Rosulullah bersabda :

Memang, realita sejarah mengungkapkan bahwa dari masa ke masa banyak umat manusia yang melakukan pelanggaran akhlak, tidak terkecuali pada masa Rasulullah. Kehidupan jahiliah yang mendominasi kala itu melahirkan kebobrokan moral dan akhlak dalam segala aspek kehidupan dan yang terparah adalah aspek aqidah. Selama 23 tahun Nabi Muhammad memperbaiki aqidah dan akhlak manusia hingga mencapai dikenal sebagai khairu ummah. Di zaman kita sekarang ini pun, meskipun Islam sudah tersebar ke seluruh pelosok dunia dan sudah sekilan lama aqidah islam bersemayam di dalam hati kaum muslimin, ternyata problematika kemerosotan akhlak masih sering terjadi.

Bahkan belakangan ini fenomenanya semakin gawat hingga memporak-porandakan sendi-sendi kehidupan umat. Krisis politik, ekonomi, hukum, keuangan, kesusilaan, keteladanan, dan krisis lainnya yang melanda umat belakangan ini tidak lain disebabkan oleh krisis akhlak yang sedang melanda. Kapankah umat ini akan meraih kembali keharuman namanya, ketinggian martabatnya, dan keluhuran budinya? Tentu jawabannya adalah jika kita mau menghidupkan kembali nilai-nilai akhlak mulia dalam kehidupan kita.

 

C.  PENGERTIAN TAUHID

Tauhid (Arab :توحيد), adalah konsep dalam aqidah islam yang menyatakan keesaan Allah. Tauhid diambil kata :Wahhada Yuwahhidu Tauhidan yang artinya mengesakan. Satu suku kata dengan kata wahid yang berarti satu atau kata ahad yang berarti esa. Dalam ajaran Islam Tauhid itu berarti keyakinan akan keesaan Allah. Kalimat Tauhid ialah kalimat La Illaha Illallah yang berarti tidak ada Tuhan melainkan Allah.


    Sebagaimana dibahas di muka bahwa yang dimaksud dengan tauhid adalah keyakinan akan keesaan Allah swt. Sebagai Tuhan yang telah menciptakan, memelihara, dan menentukan segala sesuatu yang ada di alam ini. Keyakinan seperti ini dalam ajaran tauhid disebut dengan Rubūbiyyah. Sebagai konsekuensi dari keyakinan ini, kita dituntut untuk melaksanakan ibadah hanya tertuju kepada Allah swt. Dengan kata lain hanya Allah yang berhak disembah dan diibadati. Keyakinan ini disebut dengan Ulūhiyyah. Kedua ajaran tauhid ini (yakni Rubūbiyyah dan Ulūhiyyah) sebenarnya ada dalam satu makna mendasar dan tidak bisa dipisahkan antara keduanya, oleh karena itu harus kita jadikan bagian dari hidup dan kehidupan kita, dalam menghadapi berbagai keadaan, baik dalam menghadapi hal-hal yang menyenangkan karena memperoleh nikmat atau dalam menghadapi hal-hal yang menyedihkan, karena ditimpa oleh musibah.

Dalam ajaran tauhid, paling tidak ada tiga hal mendasar yang dibicarakan. PertamaIlāhiyyāt, yaitu hal-hal yang berkaitan dengan :

1.      Dzat Tuhan, (Tauhid Dzat)

Mengiktikadkan bahwa Zat Allah itu Esa, tidak berbilang, Zat Allah hanya dimiliki Allah saja, setiap makhluk tidak akan memilikinya dan tidak akan mengetahuinya terbuat dari unsure apa saja.

Rasulullah saw. bersabda:

Pikirkanlah ciptaan Allah dan jangan pikirkan Zat Allah karena engkau akan hancur”. (HR Abu Nuaim dari Ibnu Umar)

2.      Sifat-sifat Tuhan (Tauhid Sifat)

Adalah mengiktikadkan bahwa tidak ada sesuatu pun yang menyamai sifat Allah, dan hanya Allah saja yang memiliki sifat kesempurnaan.

3.      Perbuatan-perbuatan-Nya dan hubungan antara Tuhan dan hamba-hamba-Nya (Tauhid Af’al)

Adalah mengiktikadkan bahwa allah sendiri yang mencipta dan memelihara alam semesta.

“..Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya” (Al Furqan: 2).


Kedua, Nubuwwāt, yaitu hal-hal yang berkaitan dengan para nabi yang diutus oleh Allah swt. kepada seluruh umat manusia, untuk menyampaikan syariat-syariat-Nya kepada mereka.

KetigaSam’iyyāt, yaitu informasi-informasi yang dibawa oleh para nabi tersebut berupa wahyu yang mereka terima dari Allah swt. untuk disampaikan kepada umat mereka masing-masing.

Dalam ketiga ajaran dasar ini, termuat ajaran tentang malaikat, kitab dan takdir. Dan dari ajaran dasar inilah ditegakkan rukun-rukun Islam, berupa syahadat, salat, puasa, zakat dan haji serta ibadah-ibadah lainnya. Sebagai pelengkap, sekaligus penyempurna, disyariatkan pula ihsān yang harus menyertai berbagai ibadah yang kita lakukan. Dan buah dari ketiga ajaran Islam ini (yakni Iman, Islam dan Ihsān) adalah baiknya prilaku atau akhlak seorang hamba Allah swt. baik dalam rangka berhubungan dengan Allah swt. dengan sesama manusia, ataupun dengan alam lingkungannya. Semua hal ini, telah direalisasikan oleh Nabi Besar Muhammad saw. dalam kehidupan beliau sehari-hari. Dan kita sebagai umat beliau diminta untuk meneladani seluruh aspek kehidupan beliau semampu kita.

Salah satu prilaku Nabi Muhammad saw. yang harus kita teladani

adalah melakukan ibadah berdasarkan apa yang disukai oleh Allah selaku Yang Berhak menerima ibadah, bukan yang disukai oleh mereka sendiri. Sebuah dialog ringan yang terjadi antara beliau dengan Ummul Mukminin, ‘Āisyah ra., ketika kaki Rasulullah saw. bengkak, karena banyak melakukan Qiyāmul Layl (salat malam). ‘Aisyah ra. berkata: Ya Rasulallah, Anda melaksanakan ibadah Qiyāmul Layl (salat malam) sampai kaki Anda bengkak, bukankah Allah telah mengampuni dosa-dosa Anda yang terdahulu maupun yang akan datang? Rasulullah saw. menjawab tegas:  Tidak patutkah aku menjadi seorang hamba yang pandai bersyukur? 
    Dialog ringan ini menjelaskan bahwa karena Allah menyukai hamba-hamba-Nya yang pandai bersyukur, maka Rasulullah saw. pun melakukannya, tanpa menghiraukan kaki beliau menjadi bengkak karenanya.

 

D.  REALISASI TAUHID DALAM KEHIDUPAN (TAUHID SOSIAL)

Pemurnian tauhid harus dibarengi penyucian jiwa, sebab jiwa yang suci adalah cermin tauhid yang indah. Berapa banyak teladan bisa kita tiru mengenai pandangan mereka bahwa segala yang tampak didunia merupakan manisfestasi Tuhan. Maka patut sekiranya dirawat, dijaga dan dihormati. Sedangkan tauhid sosial merupakan dimensi sosial tauhid dalam kehidupan sosial sebagai turunan pengetahuan tauhid kedalam kehidupan dan ralitas sosial secara konkret. Kalau kita perhatikan dengan cermat, segala rangkain aktivitas ibadah mempunyai implikasi sosial.

Maksudnya adalah apapun ritual keagamaan yang kita kerjakan disana terdapan sisi humanis-sosialisnya. Shalat, puasa, zakat dan haji semisal, bukan sekedar ibadah yang dipersembahkan kepada Tuhan semata, melainkan memuat pelajaran yang sarat makna nan bijak. Sebagai contoh, shalat juga mengajarkan pada kita mengenai kepemimpinan, keteraturan dan kedisipilinan.

Dalam konteks kehidupan sosial, tauhid sosial sebenarnya ingin mengajari kita perihal kesatuan iman dan amal sholeh. Sebab amal sholeh adalah tingkatan lanjutan yang lebih tinggi dari sekedar iman. Dalam hubungan kemanusiaan, tidaklah dikatakan beriman apabila sesama saudara dan tetangga masih saling diam-diaman, lebih parah lagi kalau sampai bermusuhan.

Iman tidaklah berarti apa-apa tanpa melanjutkan pemahaman iman dalam perbuatan hidup. Dalam sebuah hadist, Nabi SAW bersabda : “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari kiamat, maka hendaklah ia berbuat baik kepada tetangganya. Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari kiamat,maka hendaklah ia memuliakan tamunya. Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari kiamat, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR Muslim).

Kesatuan Iman dan Amal

Pengertian tauhid sosial yang semacam itu, maka tampak sekali pentingnya menyatukan iman dan amal shaleh, iman dan amal serta agama dengan kemanusiaan. Perspektif tauhid sosial berusaha mengharmoniskan antara agama dan kemanusia’an. Hal ini bertujuan menghindari seperti apa yang diutarkan oleh Mohamed Arkoun sebagai “nalar teologis (al-‘aqlul aqa’idy), yakni memusatkan segala persoalan kepada Tuhan, pembahasan problem ketuhanan, sembari merendahkan dan memandang sebelah mata harkat martabat serta problem kemanusiaan.

Kita semua tentu akan merasa risih terhadap pemaknaan tauhid yang sempit dan cenderung sensitiv. Semangat perjuangan menggebu-gebu ketika berhadapan dengan ketidakadilan, penindasan dan diskriminasi. Atau bahkan memaki-maki ketika menemukan perilaku-perilaku amoral dalam kehidupan. Banyak umat Islam yang responsif tampil ingin menumpas, melenyapkan dan melawan hal-hal tersebut. Akan tetapi, semangat tersebut seketika hilang kala bila yang dihadapi adalah kenyataan-kenyataan sosial yang mengakibatkan kesenjangan seperti kemiskinan dan kemelaratan. Hampir sebagian besar umat Islam mengalami hal tersebut.

Tentu sangat diharapkan bahwa prinsip-prinsip tauhid sosial bisa dielaborasikan dalam berbagai dimensi hidup. Namun kita tidak boleh menutup mata bahwa untuk mengaktualisasikan nilai tauhid kita akan menemui hambatan-hambatan yang begitu kejam. Perihal kesejahteraan sosial semisal, perilaku konglomerasi yang sudah mengakar menjadi musuh kita. Sehingga untuk menghadapi hal tersebut, diperlukan keistiqomahan dan kesabaran. Rasulullah pernah menyampaikan pada perang badar pada pasukanya : “kalian akan ditolong oleh Allah, dianugerahi kemenangan dan rejeki. Jika semata-mata untuk membela kaum lemah

Perkataan tersebut berkesan bahwa kita harus tetap berjuang dan hidup untuk kaum yang lemah dan dilemahkan. Bagaimanapun juga, harta yang kita miliki ada campur tangan mereka dari golongan rendah. Seorang majikan bisa membeli mobil mewah dan uang miliyaran rupiah, dikarenakan ada banyak buruh yang menyisipkan tenaga dan waktunya dalam produksi.

Bukan sebaliknya, oarnng yang kaya bertindak sewenang-wenang sementara orang-orang miskin menengadahkan tangan berurai air mata memohon pertolongan. Secara tegas Islam memerintahkan agar memperhatikan dengan serius mereka yang kurang mampu. Fungsi tauhid sosial sebenarnya untuk mengatasi hal semacam itu. Karenanya, dimensi sosial tauhid menjadi tugas rumah kita bersama, harus dimasyarakatkan, dibudayakan dan digelorakan bersama. Ruang-ruang akademik dan sosial menjadi basis penggagas.

Artinya, umat Islam memiliki kewajiban keagamaan dalam mewujudkan kehidupan yang lebih baik, sembari mendemonstrasikan tegaknya tauhid sosial. Dalam konteks keanekaragaman yang ada di Indonesia, kita perlu bersabar dalam mengusahakan tegaknya keadilan sosial berbasis tauhid. Keseriusan menjadi ujung tombaknya. Sebab yang dihapai bukan saja masyarakatnya, budaya yang sedari awal telah mengakar pun harus dilawan. Dengan demikian ajaran Islam mengapresiasi mereka yang tulus berkorban dan berjuang untuk keperluan agama.

Oleh karena itu, mari ber fastabiqul khoirat demi mewujudkan iman yang berkeadilan dan ber-peri kemanusiaan. Semaksimal mungkin realisasi tauhid sosial benar-benar menyentuh kehidupan sosial. Iman dan tauhid yang kokoh mampu mengantarkan manusia pada kemulian sebagai insan kamil. Tiada sesuatu pun mampu menghalangi seseorang pada kemulian ketika ketauhidan kepada Tuhan sudah terpatri dalam jiiwanya. Konsep tauhid tidak mengenal klasterisasi maupun diskriminasi. Tauhid memiliki nilai yang komperenshif, sehingga tauhid adalah untuk sekalian umat.


Oleh : Dr. H. Ahmad Subqi, Lc,.M.Sy

 


Jumat, 13 Januari 2023

Kuliah Bahasa Arab & Tahfizh Qur'an Tahun 2023 Ma'had KMI Telah Dibuka


 📢📢📢🎓🎓🎓

Kesempatan Kuliah Bahasa Arab & Tahfizh Qur'an Tahun 2023 Telah Dibuka


🍃 Yayasan Al-Kautsar 561 Present: 

🎓 Ma'had KMI : Kampus Qur'ani : Pelopor Kuliah Bahasa Arab & Tahfizh 30 Juz dengan Kurikulum Bahasa Arab Internasional & Bimbingan Tahfizh Syeikh Bersanad


👳🏿‍♂️ Syeikh Manshur Gadalla Aldoun Adam Asal Sudan


🌙 بسم الله الرحمن الرحيم 

🎓  Penerimaan Mahasiswa/Mahasiswi Baru Tahun Akademik 2023-2024 Kuliyyatul Madinah Islamiyyah Al-Kautsar 561


✨ [Tersedia Program Baru]

🎓 Program Study KMI


▫️ Reguler

1️⃣ S1 Pendidikan Bahasa Arab & Tahfizh Quran -4 thn- Pilihan Asrama/Tidak Asrama/ Kelas Jauh (online)

2️⃣ Program Intensif Bahasa Arab & Tahfizh Quran -2 thn-

3️⃣ Program Tahfizh Mutqin -1 thn-


▫️ Beasiswa

1️⃣ Program Intensif Bahasa Arab & Tahfizh Quran (Pendidikan 2 thn + Pengabdian 1 thn) kuota terbatas


👉🏻 Info lengkap seputar pmb kunjungi 

http://bit.ly/pmbkmi2023


📞 Call Centre:

👨🏻‍🎓 wa.me/+628112127561 (Admin KMI)

📍 Alamat

Kuliyatul Madinah Islamiyyah

0811-2127-561

https://maps.app.goo.gl/sHASYfQsaHc9RPBY9


🌙 "Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga di antara manusia, para sahabat bertanya, “Siapakah mereka ya Rasulullah?” Rasul menjawab, *“Para ahli Al Qur’an. Merekalah keluarga Allah dan pilihan-pilihan-Nya.” (HR. Ahmad)


✨ Baarakallahu fiikum 🌹

Senin, 09 Januari 2023

الأخلاق الكريمة

AKHLAQ KARIMAH 

    Akhlak merupakan salah satu ajaran pokok agama Islam yang harus dipegang oleh setiap muslim, menurut Abdullah Ibnu Umar, orang yang paling dicintai dan paling dekat dengan Rasulullah SAW pada hari kiamat adalah orang yang paling baik akhlaknya. Rasulullah SAW di utus kedunia ini dengan tujuan untuk menyempurnakan akhlak manusia, Nabi bersabda :

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارمَ الْأَخْلَقْ
Artinya : “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak”. (HR. Ahmad dan Baihaqi)

Hal yang dapat membedakan antara manusia dan hewan terletak pada akhlaknya. Manusia yang tak berakhlak sama halnya dengan hewan, hanya saja kelebihan manusia pandai dalam berkata-kata.
Kata “akhlak” secara bahasa diartikan dengan budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat, tata karma, sopan santun, adab, dan tindakan. 

Sedangkan secara istilah akhlak merupakan tingkah laku atau sikap seseorang yang sudah menjadi kebiasaan setiap individu, dan kebiasaan tersebut selalu terlihat dalam perbuatan sehari-hari.

Dengan demikian pengertian akhlak adalah tindakan yang berhubungan dengan tiga unsur yang sangat penting, yaitu sebagai berikut:
1. Kognitif, yaitu pengetahuan dasar manusia melalui potensi intelektualitasnya.
2. Afektif, yaitu pengembangan potensi akal manusia melalui upaya menganalisis berbagai kejadian sebagai bagian dari pengembangan ilmu pengetahuan.
3. Psikomotorik, yaitu pelaksanaan pemahaman rasional kedalam bentuk perbuatan yang konkret.
Konsep akhlak dalam Al-Qur’an, salah satunya dapat diambil dari pemahaman terhadap surat Al-Alaq ayat 1-5 yang secara tekstual menyatakan perbuatan Allah SWT dalam menciptakan manusia sekaligus membebaskan manusia dari kebodohan (‘allamal insana malam ya’lam).
Akhlak adalah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa yang darinya timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah dan gampang tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan. Maka bila sifat itu memunculkan perbuatan baik dan terpuji menurut akal dan syariat maka sifat itu disebut akhlak yang baik atau akhlakul karimah, dan bila yang muncul dari sifat itu perbuatan-perbuatan buruk maka disebut akhlak yang buruk atau akhlakul mazhmumah.

Akhlak Kepada Allah

    Akhlak yang baik kepada Allah adalah ridha terhadap hukum-Nya baik secara syar’i maupun secara takdir. Ia menerima hal itu dengan lapang dada dan tidak mengeluh. Jika Allah menakdirkan sesuatu kepada seorang muslim yang tidak disukai oleh muslim itu, dia merasa ridha, menerima, dan bersabar. Ia berkata dengan lisan dan hatinya: Aku ridha Allah sebagai Rabbku. Jika Allah menetapkan hukum syar’i, ia pun ridha dan menerima. Ia tunduk kepada syariat Allah Azza Wa Jalla dengan lapang dada dan jiwa yang tenang.

    Akhlak kepada Allah SWT dapat diartikan sebagai sikap atau perbuatan yang seharusnya dilakukan oleh manusia sebagai makhluk, kepada Allah sebagai khaliq. Sekurang-kurangnya ada empat alasan mengapa manusia perlu berakhlak kepada Allah SWT.

Pertama, karena Allah SWT –lah yang menciptakan manusia. Dia yang menciptakan manusia dari air yang dikeluarkan dari tulang punggung dan tulang rusuk, hal ini sebagaimana di firmankan Allah ﷻ dalam surat At-Thariq ayat 5-7, sebagai berikut :

فَلْيَنْظُرِ الْإِ نْسَا نُ مِمَّ خُلِقَ,خُلِقَ مِنْ مَّآءٍ دَافِقٍ, يَخْرُجُ مِنْ بَيْنِ الصُّلْبِ وَالتَّرَآئِبِ .

Artinya : “Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan?. Dia diciptakan dari air (mani) yang terpancar. Yang terpancar dari tulang sulbi (punggung) dan tulang dada”.

    Maka dari itu kita sebagai umat islam harus tunduk dan patuh atas segala perintah dan larangannya, karna Allah-lah yang telah menciptakan kita.

Kedua, karena Allah SWT–lah yang telah memperlengkapkan panca indera, berupa pendengaran, penglihatan, akal fikiran dan hati, serta anggota badan yang kokoh dan sempurna kepada manusia. Allah SWT berfirman dalam surat An-Nahl ayat 78 :

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُوْنِ أُمَّهَا تِكُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ شَيْأَ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَا رَ وَالْأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ .

Artinya : “Dan Allah telah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu apapun dan Dia memberikan kamu pendengaran, penglihatan dan hati agar kamu bersyukur”.

    Bersyukurlah kepada Allah karena telah diberikan kenikmatan penglihatan dan pendengaran karna tidak semua orang diberikan kenikmatan tersebut.

Ketiga, karena Allah SWT–lah yang menyediakan berbagai bahan dan sarana yang diperlukan bagi kelangsungan hidup manusia, seperti bahan makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, air, udara, binatang ternak dan lainnya. Firman Allah ﷻ dalam surat Al-Jasiyah ayat 12-13 :

اللَّهُ الّذِى سَخَّرَلَكُمُ الْبَحْرَ لِتَجْرِيَ الْفُلْكُ فِيْهِ بِأَمْرِهِى وَلِتَبْتَغُوْا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ , وَسَخَّرَلَكُمْ مَّا فِيْ السَّمَاوَاتِ وَمَا فِيْ الْأَرْضِ جَمِيْعًا مِّنْهُ إِنَّ فِيْ ذَا لِكَ لَأَيَا تٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُوْنَ .

Artinya : “Allah lah yang menundukkan laut untuk mu agar kapal-kapal dapat berlayar di atasnya dengan perintah-Nya, dan agar kamu bersyukur. Dan Dia menundukan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi untukmu semuanya (sebagai rahmat) dari -Nya. Sungguh, dalam hal yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berfikir.

    Allah memberikan kenikmatan akal kepada manusia untuk berpikir tentang tanda-tanda kebesaran Allah, memperhatikan dan merenungkan  apa yang diciptakan dilangit dan dibumi.

Keempat,  Allah SWT–lah yang memuliakan manusia dengan diberikannya kemampuan daratan dan lautan. Firman Allah ﷻ dalam surat Al-Israa’ ayat 70 :

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِى ءَادَمَ وَحَمَلْنَا هُمْ فِيْ الْبَرِّ وَالْبَهْرِ وَرَزَقْنَا هُمْ مِّنَ الطَّيِبَا تِ وَفَضَّلْنَا هُمْ عَلَى كَثِيْرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيْلَا .

Artinya : “(70). Dan sungguh, Kami telah muliakan anak-anak cucu Adam dan Kami angkut mereka di darat dan di laut dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna”.

    Dari uraian diatas, kita memang benar perlu untuk berakhlak kepada Allah SWT. Karena alasan-alasan di atas adalah tolak ukur yang tepat dan terdapat perintah Allah di dalamnya bahwa kita sebagai seorang muslim memang diharuskan untuk berakhlak kepada Sang Pencipta.

Beberapa bentuk akhlak terhadap Allah SWT, diantaranya:

1.Menaati segala perintah-Nya

    Hal pertama yang harus dilakukan seorang muslim dalam beretika kepada Allah SWT adalah dengan mentaati segala perintah-perintah–Nya. Allah SWT–lah yang telah memberikan segala-galanya pada hambanya.

2.Beribadah kepada Allah

    Melaksanakan perintah Allah untuk menyembah-Nya sesuai dengan perintah-Nya. Seorang muslim beribadah membuktikan ketundukkan terhadap perintah Allah.

3.Berzikir kepada Allah

    Mengingat Allah dalam berbagai kondisi, baik diucapkan dengan mulut maupun dalam hati.

4.Berdo’a kepada Allah

    Memohon apa saja kepada Allah. Do’a merupakan inti ibadah, karena ia merupakan pengakuan akan keterbatasan dan ketidakmampuan manusia, sekaligus pengakuan akan kemahakuasaan Allah terhadap segala sesuatu.

5.Tawakal

    Tawakal untuk Allah, yaitu berserah diri sepenuhnya kepada Allah dan menunggu hasil kerja atau menunggu dari suatu keadaan. Tawakal bukan berarti meninggalkan kerja dan usaha, dalam surat Al-Mulk ayat 15 dijelaskan, bahwa manusia di syariatkan berjalan di muka bumi utuk mencari rizki dengan berdagang, bertani dan lain sebagainya.

6.Tawaduk untuk Allah

    Yaitu hati yang rendah di hadapan Allah. Mengakui bahwa kita adalah makhluk yang hina di hadapan Allah Yang Maha Kuasa, oleh karena itu tidak layak jika hidup dengan angkuh dan sombong, tidak mau memaafkan orang lain, dan pamrih dalam melakukan ibadah untuk Allah.

7.Ridho terhadap ketentuan Allah SWT

    Etika berikutnya yang harus dilakukan seorang muslim terhadap Allah SWT, adalah ridho terhadap segala ketentuan yang telah Allah  berikan pada dirinya. Seperti ketika ia dilahirkan baik dari keluarga yang berada maupun keluarga yang kurang mampu, bentuk fisik yang Allah SWT berikan padanya, atau hal-hal lainnya. Karena pada hakekatnya, sikap seorang muslim senantiasa yakin terhadap apaun yang Allah SWT berikan padanya. Baik yang berupa kebaikan, atau berupa keburukan.

    Rasulullah SAW bersabda : “Sungguh mempesona perkara orang beriman. Karena segala urusannya adalah dipandang baik bagi dirinya. Jika ia mendapatkan kebaikan, ia bersyukur, karena ia tahu bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena ia tahu bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya.” (HR. Bukhari).

    Apalagi terkadang sebagai seorang manusia, pengetahuan atau pandangan kita terhadap sesuatu sangat terbatas. Sehingga bisa jadi, sesuatu yang kita anggap baik, justru buruk, sementara sesuatu yang dipandang buruk ternyata malah memiliki nilai kebaikan bagi diri kita.


Ditulis Oleh
Nama: Chintia Bella
Mahasiswa UIN STS Jambi
Pendidikan Agama Islam
Dilansir dari : https://jambidaily.com/2020/06/10/akhlak-kepada-allah-swt-rasulullah-saw-manusia-dan-lingkungan/

Minggu, 08 Januari 2023

SANTUNAN SOSIAL YAYASAN AL-KAUTSAR 561 JANUARI 2023

 




Tasikmalaya, 07 Januari 2023

Yayasan Al-Kautsar 561 yang berlokasikan di Rajadatu, Kec. Cineam, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat pada hari sabtu 07 januari 2023 kembali mendistribusikan bantuan sosial yang merupakan amanah dari donatur kepada kaum dhu'afa, janda miskin, jompo dan anak yatim. Alhamdulillah kegiatan tersebut berjalan dengan baik dan lancar hingga tersalurkan sampai kepelosok desa desa terdekat.

Terimakasih kepada para donatur yang menyisihkan sebagian hartanya untuk membantu kekurangan saudara saudari kita dipelosok daerah, semoga apa dan berapa pun yang dikeluarkan dari sisihan rezeki para donatur digantikan oleh Allah S.W.T dengan keridoan, rahmat serta keberkahan yang melimpah pada setiap rezekinya.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang Mukmin, maka Allâh melapangkan darinya satu kesusahan di hari Kiamat. Barangsiapa memudahkan (urusan) orang yang kesulitan (dalam masalah hutang), maka Allâh Azza wa Jalla memudahkan baginya (dari kesulitan) di dunia dan akhirat. Barangsiapa menutupi (aib) seorang Muslim, maka Allâh akan menutup (aib)nya di dunia dan akhirat. Allâh senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya. Barangsiapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka Allâh akan mudahkan baginya jalan menuju Surga. Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allâh (masjid) untuk membaca Kitabullah dan mempelajarinya di antara mereka, melainkan ketenteraman akan turun atas mereka, rahmat meliputi mereka, Malaikat mengelilingi mereka, dan Allâh menyanjung mereka di tengah para Malaikat yang berada di sisi-Nya. Barangsiapa yang diperlambat oleh amalnya (dalam meraih derajat yang tinggi-red), maka garis keturunannya tidak bisa mempercepatnya.”

=================================================

Bagi sahabat sahabat yang hendak ikui andil dalam beramal kebajikan baik itu untuk kaum fakir miskin ataupun untuk kebutuhan pesantren tahfidz Al-Kautsar 561 bisa menyalurkan donasinya melalui :


🍀MANDIRI norek 1310010189498.
🍀BRI Norek 010001011057531
🍀BSI (ex. BNIS Norek 5610005613
🍀BSI Norek 7104859733
An. Yayasan Al Kautsar 561
BCA an Tati Susilawati 5140139230.
Konfirm ke WA/SMS ke:
Tati Susilawati- (08122469045).
Seno (082113636569).
Jazakumullohu khoyron
🥗🥗🥗
Alamat: pesantren alkautsar561
Jagabaya-Rajadatu-Cineam-Tasikmalaya 46198.
=========================
🍓mohon bantu share informasi ini seluas-luasnya kepada saudara Muslim yang lain🍓
=========================

Follow akun sosial kami :

Instagram Yayasanalkautsar 561

Tiktok       : Yayasanalkautsar561

YouTube   : Al kautsar 561 Official