Berbagi Kebahagiaan Dengan Yatim dan Du'afa

Mari kita berbagi kebahagiaan dengan para santri yatim dan du'afa penghafal quran, kita bantu wujudkan cita-cita mereka menjadi ilmuan yang hafal Alquran

Program Orang Tua Asuh

Hanya dengan menyisihkan min 20K anda sudah menjadi orang tua asuh para santri yatim du'afa penghafal Al-quran

YAYASAN YATIM & DU’AFA ALKAUTSAR 561, MENERIMA PENYALURAN ZAKAT, INFAQ, WAKAF DAN SHODAQOH

Rabu, 22 Maret 2023

TAHRIB RAMADHAN 1444 H

Tasikmalaya, 18 Maret 2023 

Pesantren Al-Kautsar 561 mengadakan kegiatan Tahrib Ramadhan menjelang datanganya bulan suci sebagai bentuk kebahagiaan seorang muslim atas kehadiran bulan Ramadhan 1444 H. kegiatan tersebut diikuti seluruh santri Al-Kautsar 561 baik dari SMP QSBS, SMA QSBS atauapun Mahasiswa/i Kuliyatul Madinah Islamiyyah.



Tahrib Ramadhan yang digelar oleh Yayasan Al-Kautsar 561 berjalan dengan lancar dan sangat menggembirakan, terdapat beberapa kegiatan pada acara Tahrib ini yaitu kegiatan pawai dengan berjalan kaki serta membagikan waktu imsak ke warga-warga, kemudian dilanjut dengan perlombaan antar santri dan diakhiri dengan makan bersama atau biasa disebut dengan munggahan.

Semoga kegiatan tersebut dapat memberikan kebaikan untuk semangat santri-santri serta warga sekitar dalam menjalani ibadah bulan Suci Ramadhan 1444 H


















 

Selasa, 14 Maret 2023

Kisah Urwah Bin Zubair dalam menghadapi Taqdir Allah

 

    Dalam menerima ujian, tentu kita tidak akan mampu sekuat dan sesabar kaum alim ulama yang menunjukkan ketaqwaaannya kepada Rabb-nya dengan cara yang luar biasa. Dikisahkan pula tentang kisah kesalehan Urwah Bin Zubair, ulama yang sangat alim. Beliau adalah salah satu dari Tujuh Fuqaha Madinah, yaitu sebutan untuk sekelompok ahli fiqih dari generasi tabi’in yang merupakan para tokoh utama ilmu fiqih di kota Madinah setelah wafatnya generasi sahabat yang hidup sezaman dengan Nabi Muhammad.[1]

Ibnu Khillikan menyebut beliau sebagai orang yang alim, saleh sekaligus memberi contoh manusia yang sabar dan tabah dalam menghadapi takdir Allahﷻ. Dikisahkan saat hendak pergi menemui Walid bin Abdul Malik, beliau mendapati musibah pertama yang menimpanya, anak kesayangannya meninggal dunia karena terinjak binatang ternak dan  meninggal dunia seketika. Dalam keadaan demikian, beliau tetap melanjutkan perjalanannya dengan tetap memuji kebesaran Allahﷻ, tidak ada perasaan kecewa terhadap takdir yang Allah berikan tersebut. Beliau bahkan memuji dengan kata yang menyejukkan hati dengan tetap yakin bahwa jika Allah memberikan ujian, pasti memberikan maaf, demikian juga ketika Allah mengambil sesuatu darinya, pasti akan memberi pengganti yang lebih baik.



Setelah kejadian tersebut, beliau mendapat ujian lagi. Kakinya tertimpa penyakit kudis yang sangat parah. Dokter-dokter pada waktu itu sudah angkat tangan karena penyakitnya sudah kronis, hingga kemudian diambillah keputusan untuk mengamputasi kaki Urwah Bin Zubair. Eksekusi dilakukan dengan mendatangkan para jagal. Saat itu belum ada ilmu anestesi seperti kemajuan dunia kedokteran saat ini, sehingga beliau disarankan untuk minum khamr (minuman keras) agar tidak merasa sakit saat diamputasi, beliau menjawab, “Aku tidak akan memanfaatkan sesuatu yang diharamkan oleh Allah hanya karena ingin sembuh.” Selain itu, beliau juga menolak untuk meminum obat tidur dan bersikeras untuk tegar menahan rasa sakitnya. Di sela-sela proses pemotongan kakinya tersebut, beliau tidak henti-hentinya mengucapkan kalimat tahlil dan takbir. Dalam cerita lain, dikisahkan tentang momen pemotongan itu dilakukan sewaktu Urwah sedang shalat sesuai dengan permintaannya. Setelah pemotongan kaki selesai dilakukan, beliau mengatakan:“Demi Allah selama 40 tahun saya belum pernah melangkahkan kaki ke tempat haram dan saya bersyukur bisa mengembalikan kakiku kepada Rabbku dalam keadaan suci.

Sikap Urwah ini menunjukkan betapa tingginya kesabaran beliau dalam menerima takdir Allahﷻ. Mendapat musibah bertubi-tubi, tidak membuatnya lantas mengeluh tetapi malah memuji kebesaran Tuhannya. Ia merasa bahwa ujian yang datang menimpanya, tidak sebanding dengan nikmat Allah yang begitu banyak. Orang yang menyatakan keimanannya kepada Allah dengan bersungguh-sungguh, menyikapi sakit dengan hati yang tenang dan ikhlas, karena tahu inilah kesempatan Allah menguggurkan dosa-dosa dan kesalahannya. Mereka tahu inilah kesempatan untuk berdoa dan berdzikir serta berhusnudzon kepada Allahﷻ, karena semua atas izin-Nya dan semua akan kembali kepadaNya.



Harapan dan Optimisme di Tengah Permasalahan

Dengan mengambil I’tibar dari kisah Urwan bin Zubair ini, hendaknya kita menyikapi ujian dalam kehidupan dengan tidak berputus asa terhadap ujian yang diberikan Allahﷻ, karena sejatinya keputusasaan acapkali membuat manusia menjadi ragu-ragu dan membuat hidup kita seakan tanpa ruh, tanpa jiwa dan parahnya lagi, keputusasaan mampu menghilangkan semangat hidup untuk meraih keberkahan Allahﷻ. Perlu selalu kita tanamkan dalam jiwa kita bahwa hidup kita ini sangat bergantung pada Allahﷻ sang Maha Pencipta

“Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.” (QS. Al-Fatihah [1]:5)

Namun memang tabiat manusia yang seringkali hanya berdoa di saat butuh dan akan melenggang dengan bangganya disaat hajatnya terpenuhi, tak pernah merasa mau bergantung sepenuhnya kepada Sang Khalik dan kerap hanya menumbuhkan kesombongan pada diri manusia.

“Dan apabila kami memberikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri…” (QS. Fushsilat [41]:51)

“Manusia itu tiada jemu memohon kebaikan, dan jika mereka ditimpa malapetaka, maka ia menjadi putus asa lagi putus harapan.” (QS. Fushsilat [41]:49)



    Agama Islam adalah agama yang paling sempurna, Agama Islam sangat menganjurkan umatnya untuk melakukan hal-hal yang terpuji. Kita memiliki role model yang selalu dapat dijadikan teladan atau uswatun hasanah bagi seluruh umatnya. Salah satu akhlakul karimah yang diajarkan oleh nabi Muhammad SAW adalah sifat raja’ yang berarti harapan atau optimisme, yang dalam arti luas dapat diartikan bahwa Allah akan senantiasa memberikan harapan. Oleh karenanya, sebagai muslim yang taat pada Allah, kita seyogyanya tidak boleh merasa kehilangan harapan, baik itu harapan akan pengampunan dosa, harapan mendapatkan kualitashidup yang baik, harapan untuk keluar dari himpitan kesulitan hidup maupun harapan untuk mendapatkan jawaban dari setiap permasalahan.

Kita harus senantiasa menumbuhkan harapan dan optimisme dengan tidak berperasangka buruk kepada Allahﷻ, meyakinkan diri bahwa setiap ujian yang diberikan oleh Allah semata-mata untuk kebaikan kita, tanamkan pada hati kita, bahwa Allahﷻ selalu bersedia membantu kita menyelesaikan permasalahan kehidupan yang kita hadapi. Dengan menumbuhkan harapan ini, tidak ada istilah putus asa ketika menghadapi problematika kehidupan yang memang selalu mengintai kehidupan kita. Dengan meyakini Allahﷻ senantiasa hadir dan membantu kita, maka akan memunculkan ketenangan hati dan kedamaian pikiran. Terlebih jika kita menempatkan posisi Tuhan sebagai prioritas utama di hati kita dengan menyadari bahwa kuasanya tak terbatas dan cinta kasihnya kepada hambanya tiada bertepi, Ia selalu hadir memberikan jalan keluar disetiap kesulitan dan himpitan kehidupan bahkan kesulitan itu datang dari buah keburukan kita sekalipun.

Dengan melihat bahwa ada kebaikan disetiap kesulitan, kita akan selalu berbaik sangka kepada Allah. sebagaimana firman Allahﷻ dalam hadis qudsi, kasih sayang-Ku lebih luas dari murka-Ku, dan dalam hadis lain disebutkan, Allahﷻ berfirman, Aku tergantung prasangka hamba-ku kepada-Ku. Apabila ia berprasangka baik, maka baik akibatnya, namun apabila ia berprasangka buruk, keburukan akan menimpa dirinya.

Setiap kejadian betapapun pahitnya akan selalu menyisakan hikmah yang besar, hal ini yang selalu diajarkan oleh Allah melalui kalamnya Yang Mulia, dengan maksud supaya manusia tidak berputus asa dengan segala sesuatu yang hilang dan tidak berbangga diri ketika berpunya.

“Supaya kamu jangan berputus asa atas sesuatu yang hilang dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang telah diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (Al Hadid:23)

Selain itu dalam firman Allahﷻ yang lain disebutkan bahwa, tidak ada satu musibah pun yang menimpa bumi dan manusia tanpa sepengetahuan Allahﷻ. Dan bagi-Nya hal tersebut sangat mudah terjadi

“Tiada musibah yang menimpa bumi dan tidak pula menimpa dirimu melainkan tertulis dalam kitab sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu di sisi Allah sangat mudah.” (Al Hadid:22)

    


    Dengan selalu berbaik sangka pada Allahﷻ kita akan selalu meyakini bahwa di saat senang Allahﷻ selalu menyertai dan dikala himpitan kehidupan hadir manyapa, Allahﷻ pun tidak beranjak dari sisi kita. Kasih sayang-Nya selalu ada bersama hambanya yang beriman. Dengan keyakinan ini, kita akan selalu mampu bangkit dari keterpurukan dan tersenyum meski kabut duka menyelimuti, tetap tegar kala kepayahan dan kembali berdiri dan berjuang kala jatuh dan tersungkur. Dengan demikian apa lagi alasan kita untuk bersedih dengan hadirnya problematika kehidupan? Untuk apa menangisi dan meratapi kesulitan? Untuk apa berlama-lama berduka? Dan untuk apa kita berputus asa terhadap rahmatNya?.

Atasi kesulitan dengan keikhlasan dan kesabaran, serta senantiasa berharap hanya kepada Allahﷻ, Biizdnillah dengan keyakinan hati, semoga ujian apapun dalam kehidupan akan bisa terlewati. Segera bangkit dan bergegas memperbanyak amalan kebaikan sebelum diakhirkan dalam keadaan husnul khotimah.

Kita tidak boleh berputus harapan dan berkeluh kesah berkepanjangan, agar kelak saat kita berjumpa dengan sang Maha Cinta, kita dapat berjalan tegak dan tanpa tertunduk malu. Wallahu a’lam bisawab.


Dikutip dari https://dppai.uii.ac.id/mengambil-hikmah-kisah-urwah-bin-zubair-dalam-menghadapi-takdir-allah/

Akhlaqul Karim Bab Qada' dan Qadar Allah S.W.T

1.      DEFINISI QADA’ DAN QADAR

Hal yang telah diyakini di dalam hati dengan sebenar benarnya, lalu dilaksanakan dengan sebenar-benarnya, dengan mengamalkannya dan diucapkan dengan sebenar benarnya Itulah arti dari pada iman yang sebenarnya. Pada rukun iman keenam, yang telah dianut oleh Ahlussunnah Wal Jamaah ini ialah Iman kepada ketentuan dan keputusan Allah. Dari segi bahasa, qada’ artinya memutuskan. Qada’ ialah pengetahuan Allah terhadap kejadian yang sudah terjadi, sedang terjadi dan akan terjadi (keputusan Allah). Dari segi
bahasa, qadar berarti ketentuan. Qadar ialah ketentuan yang Allah berlakukan sesuai dengan pengetahuan atau kehendak Allah (kapasitas dari keputusan Allah). Seperti contoh ini; santri akan menikah, maka akan mempunyai anak dan akan menjadi ulama, semua itulah qada’ (keputusan). Sedangkan, jika santri tersebut sudah menikah, maka itulah qadar (ketentuan).

Banyak kesalah pahaman yang terjadi, bahwa sesuatu yang terjadi kepada manusia adalah kehendak Allah, kejelekan dan kemaksiatan manusia, dinisbatkan secara serta merta kepada Allah. Memang, bahwa sesuatu yang terjadi kepada manusia adalah kehendak Allah itu dibenarkan, namun setiap manusia juga mempunyai kehendak sendiri. Jika, manusia tersebut mempunyai kehendak maka kehendak itulah yang nantinya dipertanggung jawabkan kepada Allah. Dengan begitu, maka manusia akan memahami dan
mengetahui bahwa apa yang mereka lakukan muncul dari setiap yang mereka perbuat, hal yang biasa disebut sebagai hukum kausalitas. Karena itu menjadi tanggung jawab manusia itu sendiri yang akan dipertanyakan tanggung jawabnya oleh Allah.



Mengenai kausalitas ini, terdapat dua takdir; muallaq dan mubram. Takdir Muallaq merupakan suatu kejadian ataupun ketetapan, yang berhubungan terhadap ikhtiar (usaha) dan masih bisa diubah dengan usaha dan doa. Allah telah mengabarkan tentang sunnah dari sunnah-sunnah-Nya yang telah berjalan pada makhluk-Nya, bahwa Dia (Allah) tidak akan menghilangkan nikmat dari suatu kaum berupa kesehatan, keamanan, kelapangan karena keimanan dan ama

 عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : حَدَّثَنَا رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ الصَّادِقُ الْمَصْدُوْقُ : إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْماً نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ   ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ      أَوْ سَعِيْدٌ.    فَوَ اللهِ الَّذِي لاَ إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ  الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا

Artinya : “Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud R.A. beliau berkata: Rasulullah SAW. menyampaikan kepada kami dan beliau adalah orang yang jujur dan terpercaya: Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya sebagai setetes mani selama empat puluh hari, kemudian berubah menjadi setetes darah selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal daging selama empat puluh hari. Kemudian diutus
kepadanya seorang malaikat lalu ditiupkan padanya ruh dan dia diperintahkan untuk menetapkan empat perkara: menetapkan rizkinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan atau kebahagiaannya. Demi Allah yang tidak ada Tuhan selain-Nya, sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli surga hingga jarak antara dirinya dan surge tinggal sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan
ahli neraka maka masuklah dia ke dalam neraka. sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli neraka hingga jarak antara dirinya dan neraka tinggal sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli surga maka masuklah dia ke dalam surga
.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Berdasarkan hadits di atas, bahwa memang pengetahuan dan kejadian yang Allah tentukan dan pastikan, akan dikembalikan kepada manusia dan dilaksanakan oleh manusia tersebut. Akan tetapi, ditetapkan baginya ketentuan, yakni ketika ditiupkan ruh di dalam tubuh manusia. Meskipun demikian, perlu juga kita fahami mengenai keberadaan lauhul mahfudh, bahwa ketetapan itu jauh terjadi sebelum ditiupkannya ruh, sebuah ‘tulisan’ yang
eksistensinya setelah Allah itu ada, maksudnya ialah bahwa Allah dan pengetahuanNya telah lebih dahulu dari pada tulisan ataupun takdir yang Allah.

Memahami hal ini, tentu akan menjadi nilai pandangan dan pendidikan tersendiri. Dengan ketentuan dan kepastian Allah inilah, seharusnya kita menjadi manusia yang mawas diri dan menjaga setiap perbuatan dengan semuanya diperuntukkan untuk pengabdian kepada Allah SWT.

 

2.      DALIL QADA’ DAN QADAR



a.      Dalil Al-Quran

Dalil qada’ yang memiliki arti keputusan, terdapat pada Al-Qur’an surah An-Nisa’
ayat ke 65

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُوْنَ حَتّٰى يُحَكِّمُوْكَ فِيْمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوْا فِيْٓ اَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا


Artinya : Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, (sehingga) kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.

Sangat jelas diartikan sebagai keputusan. Dari arti tersebut dapat diambil
pengertian bahwa setiap apa yang kita dapati atau manusia dan makhluk Allah dapat selama ini, tentu semuanya ialah berdasarkan keputusan dari Tuhan semesta alam.

Adapun pengertian lain tentang qada’ ialah kehendak, terdapat dalam Al-Qur’an surah Ali Imron ayat 47

قَالَتْ رَبِّ اَنّٰى يَكُوْنُ لِيْ وَلَدٌ وَّلَمْ يَمْسَسْنِيْ بَشَرٌ ۗ قَالَ كَذٰلِكِ اللّٰهُ يَخْلُقُ مَا يَشَاۤءُ ۗاِذَا قَضٰٓى اَمْرًا فَاِنَّمَا يَقُوْلُ لَهٗ كُنْ فَيَكُوْنُ

Artinya : Dia (Maryam) berkata, “Ya Tuhanku, bagaimana mungkin aku akan mempunyai anak, padahal tidak ada seorang laki-laki pun yang menyentuhku?” Dia (Allah) berfirman, “Demikianlah Allah menciptakan apa yang Dia kehendaki. Apabila Dia hendak menetapkan sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka jadilah sesuatu itu.

Dari arti tersebut dapat diambil pengertian bahwa seorang mukmin harus beriman dan meyakini pada apa yang Allah kehendaki itu akan benar-benar terjadi dan tidak ada satupun suatu hal yang dapat menghalanginya. Merujuk pada kedua arti ini, setiap apa-apa yang telah Allah tulis dan tetapkan inilah semuanya berdasarkan kehendak Allah dan keputusan-Nya.

Dalil qadar, yang memiliki arti mengatur atau menentukan sesuatu menurut batas- batasnya atau kadar-kadarnya terdapat pada Al-Qur’an surah Fussilat ayat ke 10.

وَجَعَلَ فِيْهَا رَوَاسِيَ مِنْ فَوْقِهَا وَبٰرَكَ فِيْهَا وَقَدَّرَ فِيْهَآ اَقْوَاتَهَا فِيْٓ اَرْبَعَةِ اَيَّامٍۗ سَوَاۤءً لِّلسَّاۤىِٕلِيْنَ

Artinya : Dan Dia ciptakan padanya gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dan kemudian Dia berkahi, dan Dia tentukan makanan-makanan (bagi penghuni)nya dalam empat masa, memadai untuk (memenuhi kebutuhan) mereka yang memerlukannya.

Dari arti tersebut dapat diambil pengertian bahwa Allah telah menciptakan seluruh hal yang telah Dia ciptakan dengan kadar dan metamorfosisnya masing-masing. Sehingga, mereka semua dapat hidup di alam semesta ini tidak lain dengan atas izin Allah, dalam arti lain, qadar berarti ketentuan atau kepastian terdapat pada Al-Qur’an surah Al-Mursalat ayat ke 23.

فَقَدَرْنَاۖ فَنِعْمَ الْقٰدِرُوْنَ

Artinya : lalu Kami tentukan (bentuknya), maka (Kamilah) sebaik-baik yang menentukan.

Dari arti tersebut dalam diambil pengertian bahwa dengan ketentuan dan kepastian yang Allah berikan ini menjadikan manusia lebih bisa dapat menerima segala sesuatu yang telah di tentukan pada dirinya.

Dasar keimanan terhadap qadha dan qadar adalah firman Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an, yaitu firman Allah QS. Al-Hijr ayat 21. :

وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلا عِنْدَنَا خَزَائِنُهُ وَمَا نُنَزِّلُهُ إِلا بِقَدَرٍ مَعْلُومٍ

Artinya : “Dan tidak ada sesuatu pun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya; dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu.

Pada ayat yang lainnya disebutkan dalam QS. Maryam ayat 21

وَكَانَ أَمْرًا مَقْضِيًّا

Artinya : “Dan ini perkara yang sudah ditetapkan.”



 Dalil Al-Hadits

Riwayat shahih mengenai hal ini adalah sabda Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam :

أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ

Artinya : “Kamu beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir, dan kamu beriman kepada qadar yang baik maupun yang buruk”.( HR. Muslim).
Riwayat lainnya menyebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya yang pertama kali diciptakan Allah ta’ala ialah pena, kemudian Allah berfirman kepadanya, ‘Tulislah.’ Pena berkata, ‘Tuhanku, apa yang harus saya tulis?’ Allah berfirman, ‘Tulislah takaran (takdir) segala sesuatu hingga hari kiamat.” (H.R. Ahmad dan At-Tirmidzi).
Merujuk pada beberapa ayat dalam Al-Qur’an dan riwayat shahih dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dapat dipahami bahwa Allah Ta’ala telah menetapkan takdir seluruh makhlukNya. Riwayat lainnya menjelaskan:

كَتَبَ اللهُ مَقَادِيْرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ بِخَمْسِيْنَ أَلْفَ سَنَةٍ.

Artinya : “Allah telah mencatat seluruh takdir makhluk lima puluh ribu tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi” HR. Muslim, Thirmidzi dan Abu Dawud.

 

3. PERILAKU MANUSIA YANG MENCERMINKAN IMAN QADA’ DAN QADAR



Ketika benar benar mempercayai keputusan dan ketentuan dari Allah akan
menampakkan perilaku yang mencerminkan iman kepada kepastian dan ketentuan itu,
sebagaimana berikut:

a. Mengimani Qada’ dan Qadar dengan sebenar-benarnya akan menjadikan pribadi manusia menjadi lebih giat dan teratur dalam bekerja dengan sekuat tenaga untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

b. Menyadari bahwa dirinya adalah insan yang dzalim dan lemah serta meyakini atas apa yang Tuhan kehendaki dan Kuasanya agar apa yang dilakukanya lebih yakin dan kokoh.

c. Menerima masukan, saran dan kritik dari luar diri dan menghindari sikap keras kepala dan memperbaikinya dengan sikap tawadhu’ (rendah hati) dan meyakini bahwa semua ini atas pertolongan Allah SWT.

d. Dalam melangkahkan kaki di setiap harinya haruslah tetap berprasangka baik kepada Allah SWT dan menghindari rasa pesimistis dalam kehidupanya.

e. Dengan menjadikan cita-cita yang menjadi dasar kuat untuk mendapatkan kemuliaan di waktu yang akan datang menjadikan iman lebih kokoh.

f. Menengadahkan tangan di dada dengan ucapan syukur setiap saat bahkan saat
mendapatkan peristiwa-peristiwa yang terjadi walaupun itu ujian dari Allah karena dengan bersyukur itulah maka hidup akan terasa lebih mudah dan ringan dalam menjalaninya.

 

4. IMPLEMENTASI BERIMAN KEPADA QADA DAN QADAR DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI

Orang yang beriman kepada qadha dan qadar senantiasa selayaknya memiliki keimanan kepada Rukun Islam secara utuh. Perilaku-perilaku itu dilakukan tercermin dalam kehidupan sehari-hari. Perilaku-perilaku itu sebagai beikut:

1.    Berusaha bersungguh-sungguh untuk mencapai keberhasilan (Ikhtiar).

     Sebelum menyerahkan segala persoalan kepada Allah Swt. setidaknya orang yang beriman kepada qadha dan qadar berusaha dengan bersunguh-sungguh dahulu untuk mencapai keberhasilan atau sesuatu yang diinginkan. Meskipun Allah Swt. berkehendak lain atas usahanya itu, menandakan takdir Allah Swt. adalah yang terbaik buatnya.

2.    Menyerahkan segala persoalan kepada Allah (Tawakal).

     Setelah manusia berusaha sebaiknya segala persoalan diserahkan kepada Allah Swt. Mengapa demikian? Karena manusia adalah lemah jadi tidak mungkin dapat mengatasi persoalan sendiri. Selain itu manusia perlu ketenangan batin. Maka sudah seyogyanya bertawakal kepada Allah Swt. Semua itu Allah Swt yang menentukan lewat takdir-Nya yang tidak dapat ditolak oleh manusia

3.    Selalu bertemia kasih kepada Allah Swt (Syukur).

Bersyukur adalah ciri orang yang tahu belas kasih baik yang datang dari sesama manusia maupun dari Allah Swt. Orang yang senantiasa bersyukur atas nikmat yang telah diberikan Allah Swt. akan ditambah nikmatnya. Dan tidak mau bersyukur akan mendapatkan azab. Oleh karena itu selaku orang yang beriman kepada qadha dan qadar sudah selayakny senantiasa bersyukur kepada Allah Swt.

4.    Melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya (Takwa).

     Takwa adalah simbul orang yang beriman. Menjalankan Rukun Islam yang berjumlah 5 (lima) yaitu syahadat, shalat, puasa, zakat, dan beribadah haji (bagi yang mampu) crmian orang yang beriman kepada qadha dan qadar.

5.    Rela atau menerima pemberian Allah (Qanaah).

     Menerima pemberian Allah Swt . dengan ikhlas merupan bentuk beriman kepada qadha dan qadar. Kerelaan yang didasari sudah takdirnya dari Allah akan diterima tanpa sedikitpun mengeluh atau membandung-bandingkan dengan orang yang lebih beruntung.

6.    Tahan godaan (Sabar)

     Menahan segala sesuatu dari godaan nafsu dunaiwi juga merupakan perilaku orang yang mengimani adanya qadha dan qadar. Dia menyadari di dunia penuh godaan dan ujian. Biasanaya sikap orang tersebut iadak mudah terpengaruh oleh rayuan dunia yang glamour. Dia lebih suka bertafakur kepada Allah Swt. dan menjalani takdirnya dengan penuh keikhlasan. Orang ini sadar bahwa segala sesuatu yang menentukan dan yang menetapkan hanyalah Allah Swt., manusia hanya menjalaninya.

7.    Selalu berdoa

     Ikhtiar saja tidak cukup, harus dibarengi dengan doa agar memuluskan perjalanan. Tidak hanya doa kita saja, tetapi doa orang-orang tercinta seperti ibu, bapak, keluarga atau kerabat.  Doa juga menyadarkan kita bahwa semua usaha yang kita lakukan, pada akhirnya adalah Allah yang menentukan. Sehingga kita harus memohon agar apa yang kita usahakan dapat tercapai.  

 

5.      PENERAPAN IMAN KEPADA QADA DAN QADAR DALAM KARAKTER

Dari penjelasan bab ini, kita dapat menerapkan karakter sebagai berikut:

1. Karakter Religius

            Dari pemahaman beriman kepada Qada dan Qadar Allah, kalian menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari dan beribadah kepada Allah Swt. Penerapan yang dapat kamu lakukan dalam kehidupan sehari- hari antara lain adalah:

            • mendirikan salat wajib berjamaah;

            • berdzikir setelah shalat; dan

            • membaca al-Qur’an setiap hari.

2. Karakter Jujur

            Dengan meyakini iman kepada Qada-Qadar diharapkan dapat memberikan motivasi bersikap jujur dalam kehidupan. Penerapan karakter jujur yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari adalah:

            • mengerjakan ulangan dengan jujur;

            • membeli barang sesuai dengan harganya; dan

            • mengembalikan barang temuan kepada yang punya.

3. Karakter Peduli Sosial

            Penerapan karakter peduli sosial dalam kehidupan sehari-hari antara lain adalah:

            • membantu teman yang membutuhkan pertolongan;

            • mengeluarkan infaq setiap Jumat; dan

            • membantu korban bencana alam.

4. Karakter Bertanggung Jawab

            Penerapan karakter bertanggung jawab dalam kehidupan sehari- hari antara lain adalah:

            • mengerjakan tugas dari guru dengan sebaik-baiknya;

            • membersihkan ruang kamar setiap hari; dan

            • menjadi ketua kelas dengan amanah.

5. Karakter Kreatif

            Penerapan karakter tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari adalah:

            • melakukan penelitian yang bermanfaat bagi masyarakat;

            • menyusun program dalam organisasi dengan kreatif; dan

            • menemukan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat.



5.      HIKMAH MENGIMANI QADA’ DAN QADAR

            Hikmah beriman kepada takdir (kepastian dan ketentuan Allah) memberikan output dan implikasi yang bagus untuk maslahat dan pribadi individu, diantaranya:

     a. Jika sudah memahami, pasrah dan berusaha akan qada dan qadar Allah, tentu
memberikan macam-macam kesalehan amal dan akhlaq yang baik.

     b. Muslim dan mukmin yang sejati tentu mempasrahkan seluruh ketentuan yang diberikan kepada Allah baik berupa ujian maupun kebahagiaan dikembalikan kepada Allah.

     c. Mengimani kepastian dan ketentuan Allah ini dapat menjadikan manusia terlindungi dari akibat-akibat hal-hal yang buruk yang dapat menjadikan manusia untuk dapat masuk kejurang kesesatan dan kematian yang buruk atau suul khotimah yang terjadi, dengan memperbanyak berdoa dan melakukan kegiatan yang baik akan dapat menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar.

     d. Dapat membangkitkan ke dalam jiwa orang-orang yang beriman dengan keberanian dan mental hati yang kuat dan keyakinan yang pasti, dan pastinya dengan terus berusaha untuk tetap sabar ketika ujian telah datang kepada kita.

     e. Terdapat sebuah ketenangan hati, dengan rasa mensyukuri semua apa yang Allah tentukan dan tetapkan oleh Allah SWT kepada makhluk hidup di alam semesta ini

 


7. KESIMPULAN

Beriman kepada Qada’ dan Qadar, menjadikan manusia lebih bisa untuk menjadikan diri mereka optimistis kepada apa yang diberikan oleh Allah SWT. Semua yang telah terjadi di alam semesta ini, kepada diri mereka akan mempertebal iman kepada Allah. Takdir Muallaq (bisa dirubah dengan Ikhtiyar) dan Takdir Mubram (mutlak). Karakter manusia dengan memahami dan meyakini qada dan qadar Allah, akan memunculkan perilaku yang baik dalam keseharianya dan tentunya akan mendapatkan hikmah dari apa yang didapatkanya. Implikasi dari pemahaman yang komprehensif akan keyakinan yang benar terhadap qada’ dan qadar terhadap pendidikan agama Islam, adalah tertanamnya amal saleh (perilaku-perilaku positif) pada peserta didik. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa pemahaman yang komprehensif akan keyakinan yang benar terhadap qada dan qadar Allah pada peserta didik memiliki dampak yang sangat positif, yakni timbulnya amal saleh (perilaku-perilaku positif) dalam kesehariannya yang juga dapat disebut dengan al-Akhlaq al-Karimah atau akhlaq mahmudah.