YAYASAN YATIM & DU’AFA ALKAUTSAR 561, MENERIMA PENYALURAN ZAKAT, INFAQ, WAKAF DAN SHODAQOH

Jumat, 05 Desember 2014

Adab Bersedekah


Oleh: H. Aep Saepulloh Darusmanwiati MA. (Kandidat Doktor Universitas Al-Azhar Mesir)

Sedekah merupakan amalan yang sangat mulia dalam ajaran Islam, namun tentunya harus sesuai dengan tuntunan yang diajarkan Rasulullah Saw. Ada beberapa adab yang perlu diperhatikan oleh mereka yang hendak bersedekah, agar sedekahnya diterima oleh Allah dan mendapatkan pahala yang sangat besar. Paling tidak, ada sembilan adab yang perlu diketahui bersama. Diantaranya pertama, Niat yang ikhlas hanya karena Allah Niat merupakan hal terpenting dalam semua amal perbuatan. Diterima tidaknya suatu amal perbuatan, tergantung niatnya. Apabila niatnya tulus karena Allah, maka amalnya akan diterima, sekalipun amal tersebut kecil dan sepele. Sebaliknya, apabila niatnya bukan karena Allah, maka sebesar apapun amal perbuatan tersebut, tetap tidak berpahala, malah menuai dosa. Dalam sebuah hadits Rasulullah pernah mengutarakan: “Manusia kelak akan dikumpulkan berdasarkan niatnya” (HR. Ibn Majah dari Jabir, hadits ini dinilai shahih oleh Albany).
Imam as-Samarqandy pernah menuturkan sebuah kisah, sebagaimana tertuang dalam bukunya, Tanbiihul Ghaafiliin, suatu hari seorang hamba shaleh dari Bani Israil melewati gunung pasir yang sangat menggunung, lalu ia berkata dalam  hatinya: “Sungguh saya sangat berharap seandainya dalam waktu satu detik ini, tumpukan pasir berubah menjadi makanan, sehingga saya dapat sedekahkan kepada orang-orang Bani Israil yang kini sedang ditimpa kelaparan dan paceklik”. Allah lalu mewahyukan kepada Nabi nya saat itu, agar ia menyampaikan kepada hamba tadi bahwa Allah  telah mencatat niat dan keinginannya itu sebagai pahala orang yang bersedekah dengan setumpuk makanan yang sangat banyak.
Kedua, tidak diperbolehkan bagi yang bersedekah untuk menyebut-nyebut sedekahnya itu dengan maksud riya, ingin dipuji oleh orang lain, juga tidak boleh menyakiti orang yang disedekahinya. Karena apabila hal ini dilakukan, maka pahala sedekahnya hilang dan sia-sia. Sebagaimana telah jelas disebutkan dalam QS. Al-Baqarah: 264.  DR. Sayyid Husain al-‘Affany dalam kitab Tartiib al-Afwaah (2/43) menyebutkan tentang kisah-kisah ulama terdahulu ketika bersedekah,   Adalah Sufyan ats-Tsaury apabila ada pengemis datang, ia sangat berbahagia, bahkan ia menyambutnya dengan mengatakan: “Selamat datang wahai orang yang akan mencuci kesalahan dan dosa saya”. Fudhail bin ‘Iyadh pun demikian. Setiap peminta-minta datang, ia selalu menyambutnya dengan penuh hangat sambil berkata, Mereka fakir miskin yang akan membawa bekal-bekal kita untuk akhirat kelak tanpa bayaran. Mereka akan meletakkannya (pahala sedekah) dalam timbangan kelak di hadapan Allah.
Ketiga, walaupun sedekah dengan terang-terangan bukan dengan maksud riya diperbolehkan sebagaimana yang dijelaskan dalam QS. Al-Baqarah: 271 namun sebaiknya bersedekah dlebih baik engan sembunyi-sembunyi, tidak perlu diketahui orang lain. Karena dengan demikian, akan lebih terjaga dari perbuatan riya’  (ingin dipuji orang lain). Di samping itu, dengan memberikan secara diam-diam lebih menjaga kehormatan dan harga diri orang fakir miskin. Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda: “Ada tujuh golongan di mana Allah kelak akan menaungi mereka, pada saat tidak ada naungan selain naunganNya, (diantaranya) seseorang yang bersedekah, ia sembunyikan sedekahnya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan tangan kanannya (HR. Muslim).
Keempat, Ibnu Qudamah al-Maqdisy dalam bukunya Mukhtashar Minhaajul Qashidin mengatakan bahwa paling tidak ada enam kriteria yang sebaiknya diperhatikan dari orang-orang yang akan menerima shadaqah kita (tentu selain delapan kelompok yang berhak menerima shadaqah sebagaimana disebutkan dalam surat at-Taubah ayat 60). Diantaranya adalah orang yang sholih dan bertaqwa, orang yang berilmu dan mencari ilmu Rasulullah saw bersabda: “Jangan kamu berteman (bersahabat dekat) kecuali dengan orang mukmin, dan sebaiknya yang memakan makanan kamu adalah orang yang bertakwa” (HR. Ahmad dengan sanad shahih).
Kelima, hendaklah memandang kecil shadaqah yang dikeluarkan. Karena dengan demikian, orang yang bersedekah lebih dapat merendahkan hati dan lebih terhindar dari sifat sombong atau tinggi hati.  Muhammad Abdul Athi Buhairy dalam Minhaajus Shaalihiin fil Aadab al-Islaamiyyah pernah menukil perkataan ulama yang menyebutkan, “Perbuatan baik, setiap kali dipandang kecil, maka ia akan menjadi besar di hadapan Allah. Dan perbuatan dosa, setiap kali dipandang besar dosanya, maka ia akan menjadi kecil dosanya di hadapan Allah” ulama lainnya mengatakan, “Suatu kebaikan belum sempurna kecuali ada tiga unsur di dalamnya: memandang kecil, menyegerakan dan sembunyi-sembunyi dalam melaksanakannya”.
Keenam, Harta yang diberikan untuk shadaqah sebaiknya dipilih dari harta yang paling baik dan paling disukai, hal ini telah banyak dijelaskan dalam Alquran seperti dalam QS. Ali Imran: 92 dan bahkan Allah mencela orang yang selalu memberi sesuatu yang jelek untuk Allah Sebagaimana disebutkan dalam QS. An-Nahl: 62. Kini mari teladani beberapa riwayat para ulama salaf shaleh yang luar biasa dalam berderma ini, diantaranya suatu hari seorang pengemis mengetuk pintu Rabi bin Khaitsam. Rabi’ lalu mengatakan kepada para pelayannya, “Berikan dia gula yang banyak”. Mereka menjawab: “Kami akan memberikan roti, biar lebih bermanfaat bagi dia”. Rabi’ kembali berkata: “Berikan gula, karena saya lebih menyukai gula” Subhanallah.
 Ketujuh, hendaklah bersedekah dengan  harta halal, bukan dari harta haram. Hal ini mengingat bahwa shadaqah tidak akan diterima apabila dari harta haram. Allah sangat tegas dalam al-Qur’an mengingatkan hal ini:“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang kami keluarkan dari bumi untuk kamu” (QS. Al-Baqarah: 267).
 Kedelapan, sebaiknya bersedekah sekalipun tidak memiliki uang yang banyak. Atau dengan bahasa lebih mudah, sekalipun dalam waktu suka maupun duka, waktu ada ataupun tidak ada. Allah memasukkan orang yang seperti ini di antara ciri orang yang bertakwa. Sebagaimana disebutkan dalam QS. Ali Imran: 133, 134. Imam as-Samarqandy dalam bukunya Tanbiihul Ghaafiliin mengatakan, diantara hal yang akan menambah harta yang disedekahkan dan membesarkan pahala sedekah adalah selalu bersedekah sekalipun dari harta yang sedikit (sekalipun tidak mempunyai banyak uang).
 Kesembilan, Termasuk adab dalam bersedekah adalah berdoa, baik orang yang memberikan atau yang menerima shadaqah dan baik shadaqah berupa shadaqah wajib yaitu zakat, maupun shadaqah sunnat yaitu infak. Hal ini merupakan anjuran yang apabila dilakukan akan mendapatkan pahala sunnat. Yang bersedekah hendaknya mengucapkan, Allaahummaj’alhaa maghnaman, walaa taj’alhaa maghraman Artinya: “Ya Allah, jadikanlah shadaqah saya ini sebagai simpanan kelak, dan jangan Eukau jadikan dia sebagai kerugian”. (HR. Ibnu Majah) atau Robbanaa taqabbal minnaa, innaka antas sami’ul ‘aliim. “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui" (QS. Al-Baqarah: 127). Sementara bagi yang menerima (baik petugas zakat atau mustahik zakat) atau mengambil harta shadaqah baik zakat maupun infak, ketika mengambil harta tersebut sangat dianjurkan membaca doa, Alloohumma sholli ‘alaih Artinya: “Ya Allah berikan kedamaian baginya (bagi pemberi shadaqah)” (HR. Bukhari)

Penulis bisa dihubungi melalui email: aepmesir@yahoo.com




0 komentar:

Posting Komentar