YAYASAN YATIM & DU’AFA ALKAUTSAR 561, MENERIMA PENYALURAN ZAKAT, INFAQ, WAKAF DAN SHODAQOH

Selasa, 22 Juli 2014

Adab Silaturrohim

Oleh: Rifqi Fauzi 
(Penulis Buku Alquran Tematis, Staf Pengajar Pesantren Alkautsar 561)
Silaturrahim merupakan salah satu ajaran Islam paling agung yang diwajibkan bagi para pengikutnya. Hukum silaturrahim dalam Islam adalah wajib dan meninggalkannya adalah dosa, karena sangat banyak dalil dalil baik dalam Alquran dan utamanya hadits sahih yang mengancam bagi siapapun yang memutuskan silaturrahim, diantaranya adalah dalam Alquran Allah berfirman:
Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan (silaturrahim)?. Mereka itulah orang-orang yang dila'nati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka.” (QS. Muhammad: 22-23)
Bagi warga Indonesia khususnya, hari raya Idul Fitri merupakan momen untuk berkumpul, banyak keluarga jauh menyengaja pulang kampung hanya untuk berkumpul merayakan Idul Fitri bersama, tentunya inilah peluang untuk bersilaturahim dengan para kerabat, walaupun tentunya tidak hanya harus pada Idul Fitri, tapi bagi saudara yang berjauhan belum tentu bisa dilakukan dihari-hari yang lainnya.
Definis Silaturrahim
Istilah Silaturrahim yang terkenal dalam kehidupan kita sehari-hari adalah Silaturahmi, padahal kata yang tepat adalah Silaturrahim, karena kata Silaturahmi kita tidak akan dapatkan dalam literatur Islam baik dalam Alquran dan Hadits ataupun dalam kitab-kitab para ulama. Kata silaturahim terdiri dari dua suku kata, shilah dan rahim. Secara bahasa shilah berarti menghubungkan dan rahim berarti rahim, perut ibu. Dengan demikian, silaturahim dapat diartikan dengan menghubungkan rahim. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitabnya, Fathul Bari, menyebutkan, (kata rahim) membacanya dengan memberi harakat fathah pada huruf ra-nya dan memberi harakat kasrah pada huruf ha yang tidak bertitiknya (sehingga dibacanya rahim bukan rahmi), dimaksudkan adalah kerabat yang satu sama lain ada keterkaitan keturunan, baik saling mewarisi ataupun tidak, baik berupa mahram (yang haram dinikahi) maupun bukan". (Lihat Fathul Barri, (10/508, 509 Bab keutamaan Silaturahim).
Walaupun secara arti bahasa Silaturrahim berarti hubungan keturunan namun tentunya silaturrahim tidak terbatas hanya kepada kerabat tapi mengandung arti yang lebih luas yaitu hubungan persaudaraan sesame muslim berdasarkan Quran Ssurat Al-Hujurat Ayat 10. Sehingga Imam Alqurthuby membagi Silaturahim kepada dua macam, yaitu silaturrahim Khusus (silaturahim sesama keluarag) dan Silaturrahim Umum (silaturahim sesama Muslim). Saat ini kita akan membahas silaturrahim secara khusus dulu yaitu sesama keluarga, apa saja yang harus dilakukan dan ditinggalkan menurut Sunnah Rasulullah Saw.
Adab (Etika) Silaturrahim Khusus
1.      Niat Ikhlas Karena Allah Swt.
Niat merupakan pondasi pokok suatu amalan, jika niatnya benar maka amalannya InsyaAllah diterima namun jika niatnya salah maka sebesar apapun suatu amalan maka akan tertolak. Niat yang benar juga menjadikan kita melakukan silaturrahim hanya perintah Allah Swt. sehingga kita tidak akan memilih-milih siapa yang akan kita silaturrahimi dan siapa yang tidak, kita akan melakukan silaturrahim kepada siapaun, tidak berdasar baik buruk nya hubungan seseorang, karena kita tidak mengharapkan kebaikan dari seseorang tapi ridha dan pahala dari Allah Swt.
2.      Memulai Silaturrahim dengan saudara terdekat
Dari Abu Hurairah, ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah saw: "Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak saya perlakukan dengan baik?" Rasulullah saw menjawab: "Ibumu, ibumu, Ibumu, kemudian bapakmu, saudari perempuanmu, saudara laki-lakimu, kemudian kerabat kamu yang paling dekat, kemudian yang agak jauh dan demikian seterusnya. Itu semua merupakan hak yang wajib dilakukan dan silaturahim yang harus terus disambungkan" (HR. Abu Dawud dan Baihaqi).
3.      Mempelajari Garis Keturunan
Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda, “pelajarilah garis keturunan kalian yang dengannya kalian dapat menyambung tali persaudaraan. Sesungguhnya menyambung tali persaudaaran itu (dapat membuat) cinta kepada keluarga, memperbanyak harta, dan memanjangkan umur ". (HR. Tirmidzi dengan sanad shahih).
4.      Menyambungkan Silaturrahim Walaupun Berbeda Agama
Dari Asma' binti Abu Bakar, dia berkata,"Pada masa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, ibuku mengunjungiku karena rindu. Lalu aku bertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, 'Apakah aku harus menjalin silaturrahim dengannya?' Nabi Menjawab, 'Ya'". Ibnu Uyainah berkata, "Lalu Allah Azza wa jalla menurunkan ayat, '(Allah tidak melarang kalian dari orang-orang yang tidak memerangimu karena agama)'" (Qs. Al Mumtahanah (60): 8) (HR. Bukhari Dan Muslim)

5.      Bersilaturrahim Tanpa Mengharap Kebaikan
Dari Abu Hurairah RA, bahwasanya seorang laki-laki pernah berkata, "Ya Rasulullah, saya mempunyai kerabat. Saya selalu berupaya untuk menyambung silaturahim kepada mereka, tetapi mereka memutuskannya. Saya selalu berupaya untuk berbuat baik kepada mereka, tetapi mereka menyakiti saya. Saya selalu berupaya untuk lemah lembut terhadap mereka, tetapi mereka tak acuh kepada saya." Lalu Rasulullah SAW bersabda, "Jika kamu memang benar berada pada posisi apa yang kamu ucapkan tadi, maka sebenarnya mereka itu seperti orang yang kehausan, kemudian kamu tuangkan minuman ke mulut mereka dengan tiada hentinya. Dan selama kamu berbuat seperti itu kepada mereka, maka pertolongan Allah pasti akan bersamamu." ( HR. Muslim).

6.      Saling berkunjung
Sahabt Ali bin Abi Thalib Ra. Pernah berkata , Apabila kamu mempunyai saudara, kerabat, namun kamu tidak pernah berkunjung kepadanya, juga tidak pernah memberikan sebagian dari hartamu, maka kamu berarti telah memutuskan silaturahim dengannya. Jika tidak memungkinkan maka sedikitnya kita menitip salam atau menghubunginya dengan telepon atau sms.  Rasulullah pernah bersabda "Bersilaturahim lah kalian sekalipun hanya dengan mengucapkan salam" (HR. Baihaqi dengan sanad hasan).

7.      Memberikan sedekah
Dari Salman bin Amir Rasulullah saw bersabda: "Shadaqah kepada fakir miskin adalah (hanya mendapat pahala ) sedekah, namun sedekah kepada kerabat dan saudara adalah (mendapatkan pahala) sedekah dan (pahala) silaturahim" (HR. Ahmad dan Tirmidzi).

0 komentar:

Posting Komentar