YAYASAN YATIM & DU’AFA ALKAUTSAR 561, MENERIMA PENYALURAN ZAKAT, INFAQ, WAKAF DAN SHODAQOH

Minggu, 20 April 2014

Membangun Masa Depan dengan Kejujuran

“KEPERCAYAAN adalah pelumas yang sangat vital untuk suatu sistem sosial agar berjalan dengan baik. (…) Sayangnya, ia bukanlah barang dagangan yang sangat mudah dibeli. Jika Anda harus membelinya, berarti Anda telah memiliki keraguan tertentu tentang apa yang Anda beli.” Demikian Kenneth Arrow seperti dikutip Francis Fukuyama dalam bukunya Trust The Social Virtues and the Creation of Prosperity.
Kepercayaan adalah suatu prestasi psikologis yang digapai karena adanya nilai kejujuran dan kesetiaan pada diri seseorang atau suatu institusi. Kepercayaan akan semakin menguat ketika kejujuran dan kesetiaan itu adalah bersifat alami, nyata, dan dilandasi oleh ketulusan niat.
Sebaliknya, ia bisa jadi melemah, pudar dan hilang manakala kejujuran dan kesetiaan itu suatu rekayasa bermotif, ilusi dan didasarkan pada kepentingan sesaat yang tidak berpihak pada kemaslahatan bersama.
Kejujuran adalah nilai universal yang dianggap baik oleh semua bangsa, ras dan agama, sebagaimana kebohongan dianggap sebagai aib oleh semua yang berfikiran waras. Pada masyarakat yang masih sehat dengan sistem sosial yang baik, kejujuran adalah penentu nilai harga diri.
Sayangnya, pada masyarakat yang sakit dengan sistem sosial yang jelek, banyak sekali yang tertipu dengan membeli harga diri dan masa depannya dengan kebohongan. Demi gengsi dan “harga diri”, kebohongan dilakukan secara masif dan berulang bahkan dilembagakan secara sistematis.
Adakah kebohongan yang dilakukan massif dan dilembagakan secara sistematis? Buku The Sicilian Mafia: The Business of Private Protection memberikan contoh nyata yang terjadi di Italia Utara. Seorang ayah yang meminta anaknya melompat dari atas pohon yang tinggi dengan janji akan ditangkap sebelum terjatuh ke tanah ternyata berbohong dan membiarkan anaknya tersungkur berdasar-darah.
Ketika sang anak protes, dengan santai sang ayah berkata: “Kamu harus belajar tidak percaya pada siapapun, termasuk pada ayahmu sendiri.” Ternyata, prinsip seperti ini “memasyarakat” ketika tidak tersisa lagi modal sosial bernama kejujuran.
Mari kita jujur melihat fakta di negeri kita. Kita mulai dari dunia pendidikan, sebuah dunia yang diharapkan menanamkan kejujuran pada anak didik agar kelak menjadi manusia pembangunan yang tidak menyakiti rakyat dengan angka-angka mengagumkan yang menjadi “penutup” fakta aib pembangunan yang begitu parah.
Kita ambil satu bagian saja sebagai contoh, yakni Ujian Nasional (UN) yang baru berlangsung untuk tingkat SMU dan yang sederajat. Sudahkah UN dibuat dan dilaksanakan atas dasar kejujuran?
Fakta UN menyodorkan banyak hal yang bertentangan dengan kejujuran. Antara lain: pertama, maraknya praktek joki yang menawarkan jawaban jitu pada berbagai model soal adalah bukti bahwa soal UN telah bocor.
Kedua, pembiaran peserta UN membawa alat komunikasi ke dalam ruangan serta ketidakseriusan pengawas untuk secara ketat menjaga obyektifitas adalah jalan sesat yang melumrahkan kebohongan pada anak didik. Ketiga, kualitas soal yang di luar kurikulum serta masuknya nama salah satu calon presiden dalam soal bahasa Indonesia dan bahasa Inggris yang dianggap disengaja bernuansa politis telah menanamkan “pesan” pada peserta ujian untuk tidak perlu terlalu percaya pada kurikulum.
Semua fakta di atas sungguh meruntuhkan nilai kejujuran, obyektifitas dan sportifitas yang memiliki efek sosial dan psikologis luar biasa pada masa depan bangsa. Sangat bisa jadi murid yang jujur dan berprestasi selama tiga tahun dikalahkan oleh murid yang tidak berprestasi tetapi lulus dengan nilai tinggi karena bantuan joki. Walau nilai bukan satu-satunya ukuran, tapi bukan mustahil pada gilirannya bangsa ini dipimpin dan dikendalikan oleh orang-orang yang “kecerdasannya” adalah palsu, polesan dan dibangun di atas kebohongan.
Dalam dunia politik, kita bisa memberikan cacatan panjang tentang hilangnya nilai kejujuran ini. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa fakta dan janji yang disampaikan pada masa kampanye tidaklah semuanya benar. Kebanyakan rakyat sudah tahu, baik karena pengalaman sendiri atau karena melalui media tentang jual beli suara dan praktek money politics lainnya. Herannya, dengan bangga yang terpilih berkata “rakyat memilih kami sebagai wakilnya,” padahal yang benar adalah “kami memaksa rakyat untuk membeli kami.” Bagaimanakah nasib masa depan bangsa ketika dipegang oleh orang-orang yang bermental sakit seperti ini?
Nabi Muhammad bersabda bahwa kejujuran akan mengantarkan pada kebaikan,dan kebaikan itu akan mengantarkan pada surga. Kebohongan akan mengantarkan pada kejahatan, dan kejahatan itu akan mengantarkan pada neraka.
Hadits (sabda) beliau ini mengisyarahkan bahwa sesuatu yang dibangun di atas kejujuran akan menghasilkan kebajikan dan kebahagiaan, sementara sesuatu yang dibangun di atas kebohongan akan memproduksi tindak kejahatan dan kondisi yang memenderitakan.
Jujur dalam bahasa arabnya disebut shiddiq dari akar kata shidq (bermakna benar), menjadi salah satu dari empat sifat yang harus dimiliki oleh setiap rasul (utusan) yang diberi mandat untuk mengatur dan memimpin masyarakat.
Dalam al-Qur’an ada lima kata yang digandengan dengan kata shidq yang menurut sebagian ahli tafsir diyakini sebagai buah dari kejujuran: QS 17:80 menyebut madkhala shidq (jalan masuk yang benar) dan makhraja shidq (jalan keluar yang benar); QS 26: 84 dan QS 19: 50 menyebut lisaana shiqd (buah tutur yang baik); QS 10: 2 menyebut qadama shidq (kedudukan yang tinggi); dan QS 54: 55 menyebut maq’ada shidq (tempat yang disenangi atau surga).
Ibn Qayyim al-Jawziyah dalam Madaarij al-Saalikiin membahas lima konteks kejujuran tersebut secara detail. Kesimpulannya adalah bahwa ayat-ayat yang disebut menunjukkan bahwa orang-orang dan institusi yang konsisten dalam kejujuran tidak akan dibiarkan kecewa oleh Allah.
Bagi mereka akan selalu ada bimbingan menuju arah yang benar dan keluar dari permasalahan lewat jalan yang benar. Lebih dari itu mereka akan senantiasa dikenang sebagai orang-orang yang baik, mendapatkan tempat yang mulia di hati masyarakat dan disediakan surga yang penuh kebahagiaan abadi.
Harus ada upaya bersama untuk menjadikan masyarakat Indonesia sebagai high trust society,bukan low trust society. Upaya ini wajib dimulai dari dan didasarkan pada kejujuran semua elemen dalam kondisi apapun. Kesetiaan pada janji (dalam bahasa Chinanya disebut chung, dalam bahasa Jepang disebut chu) semakna dengan kejujuran pada hati nurani. Tidak ada yang bisa diharapkan dari orang yang tidak jujur dan setia pada janji yang dibuat kecuali pengkhianatan, cepat atau lambat.
Pilpres (Pemilihan presiden) yang akan dilaksanakan pada 9 Juli 2014 adalah pembuktian kesungguhan kita untuk membangun negara ini di atas pondasi kejujuran. Harus ada upaya bersama untuk memilih yang paling jujur, yang mau dengan tegas dan profesional bersama dengan rakyat membangun masa depan.
Kita harus membaca dengan serius riwayat hidup dan riwayat kerja para calon presiden dan wakil calon presiden. Mereka yang selalu merekayasa kesan diri dengan menyembunyikan diri yang asli serta tidak pernah tuntas menunaikan janji-janji tidaklah layak untuk dipilih dan dipuji. [*]

0 komentar:

Posting Komentar