YAYASAN YATIM & DU’AFA ALKAUTSAR 561, MENERIMA PENYALURAN ZAKAT, INFAQ, WAKAF DAN SHODAQOH

Senin, 21 April 2014

Iman Kepada Takdir

Oleh: Rifqi Fauzi,Lc (Alumni Al-Azhar Mesir. Sekarang mengajar di Al-Kautsar 561)

”Tidak ada satu pun musibah yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah SWT, dan barang siapa yang beriman kepada Allah SWT niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS At Taghabun [64]: 11).

Iman kepada takdir adalah pilar kehidupan yang Allah SWT anugerahkan kepada setiap hambanya yang beriman. Dengan mengimani takdir seseorang akan mampu dan siap mengarungi bahtera kehidupan dengan sempurna, karena iman kepada takdir akan menumbuhkan sifat positif. Dengan begitu, dia akan senantiasa berada dalam keseimbangan.

Di antara sifat positif itu adalah, pertama, dengan iman kapada takdir seseorang akan selalu dalam kebaikan. Bersyukur ketika Allah SWT memberikan nikmat dan bersabar serta tawakal ketika Allah memberikan musibah. Hal ini bertolak belakang dengan kebanyakan manusia pada umumnya, sebagaimana firman-Nya, ”Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri, akan tetapi apabila ia ditimpa malapetaka maka ia banyak berdoa.” (QS Fushshilat [41]: 51).

Kedua, dengan iman kepada takdir, seseorang akan senatiasa bekerja keras dan istikamah. Karena, ia percaya dan mengimani bahwa Allah SWT tidak akan mengubah nasib seseorang kecuali dengan usahanya sendiri. Allah SWT berfirman, ”Sesungguhnya Allah SWT tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS Ar-Ra`du [13]: 11).

Ketiga, dengan iman kepada takdir berarti mengimani bahwa musibah dan bencana yang datang bukan hanya merupakan kodrat Ilahi, namun juga dikarenakan kesalahan manusia sendiri. Sehingga, akan senantiasa mawas diri, selalu berhati-hati, tidak menyombongkan diri dan menghentikan segala perbuatan yang dapat mendatangkan kerusakan dan Adzab Allah SWT. Sebagaimana firman-Nya, ”Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah nikmat dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri.” (QS An-Nisaa [4]: 79).

Jelaslah, iman pada takdir bukan berarti kita diam tak berdaya dan memasrahkan semua pada takdir. Atau menyalahkan semua kejadian buruk yang menimpa kita dengan kilah, ”Takdirku sungguh kejam.”

Karena mengimani takdir sesungguhnya adalah motivasi bagi kita untuk berbuat yang terbaik. Ingat, Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum jika kaum itu tidak berusaha mengubah nasibnya sendiri. Wallahu a`lam bish-shawab.

0 komentar:

Posting Komentar